
Oleh: Ihsan Zainuddin, Lc., Dipl., M.Hum. (Ketua I ICATT )
Langit tampak cerah pagi itu. Meski terik matahari perlahan mulai menyengat, suasana di Sekretariat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICATT) terasa hangat oleh harapan. Menjelang pukul sepuluh pagi, acara serah terima gedung lantai dua ICATT resmi dimulai.
Peserta yang hadir memang belum banyak. Hanya beberapa pengurus, anggota, dan sejumlah senior yang lebih dahulu tiba saat pembawa acara membuka rangkaian kegiatan. Fenomena minimnya kehadiran anggota dalam berbagai kegiatan ICATT sebenarnya bukan hal baru. Belakangan, persoalan ini menjadi salah satu perhatian Ketua Umum ICATT, Mallingkai Ilyas.
Bukan karena kurangnya kepedulian, tetapi karena realitas yang dihadapi organisasi ini memang tidak sederhana. Anggota ICATT yang jumlahnya mencapai ratusan bahkan ribuan orang kini tersebar dalam berbagai profesi, aktivitas, dan wilayah. Hari Ahad pun tidak selalu mampu mempertemukan mereka dalam satu ruang yang sama.
Acara serah terima yang berlangsung pada 31 Mei 2026 tersebut menghadirkan seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan gedung selama kurang lebih empat bulan terakhir. Hadir perwakilan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sebagai pemberi bantuan, NU Care sebagai mitra kemaslahatan, serta jajaran pengurus yayasan dan DPP ICATT sebagai penerima manfaat.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Hamka Hasan selaku Anggota Dewan Pengawas BPKH menegaskan pentingnya menjaga amanah atas bantuan yang telah diberikan.
“Gedung ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Karena bersumber dari badan pemerintah, maka seluruh pengelolaannya harus tunduk pada prinsip-prinsip akuntabilitas dan aturan keuangan negara,” ujarnya.
Pesan tersebut bukan sekadar pengingat administratif. Di baliknya tersimpan harapan agar gedung ini benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi umat. Akuntabilitas dan kebermanfaatan menjadi dua kata kunci yang akan menentukan sejauh mana dukungan BPKH kepada ICATT dapat terus berlanjut pada masa mendatang.
Pembangunan lantai dua ini sesungguhnya merupakan kelanjutan dari gedung yang telah lebih dahulu berdiri. Kini, di atas lahan sekitar setengah hektare, berdiri kompleks sekretariat ICATT yang tampak kokoh dan representatif.
Bagi banyak organisasi, memiliki gedung sekretariat yang layak merupakan sebuah pencapaian penting. Namun sesungguhnya tantangan terbesar bukanlah membangun gedung, melainkan menghidupkan gedung tersebut agar menjadi pusat aktivitas yang produktif dan berkelanjutan.
Ketua Yayasan ICATT, Prof. Andi Aderus, menjelaskan bahwa sekretariat ini dirancang untuk menjalankan berbagai fungsi. Selain menjadi tempat pembinaan calon mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke Timur Tengah, gedung ini juga diharapkan menjadi pusat pelatihan dan pengembangan kapasitas para dai alumni Timur Tengah.
Harapan tersebut tentu sangat baik. Namun lebih jauh dari itu, keberadaan gedung baru ini semestinya menjadi momentum untuk menata kembali arah dan peran ICATT di masa depan.
Pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi sekadar, “Apa yang bisa dilakukan di gedung ini?” melainkan, “Apa yang ingin diwujudkan ICATT melalui gedung ini?”
Tanpa tata kelola yang baik dan perencanaan yang matang, gedung yang megah sekalipun berisiko hanya menjadi bangunan musiman. Ia ramai pada waktu-waktu tertentu, khususnya menjelang seleksi studi ke Timur Tengah, lalu kembali sepi setelahnya.
Karena itu, gedung baru ICATT perlu dimaknai lebih dari sekadar sekretariat organisasi. Ia harus menjadi titik kumpul kesadaran kolektif.
Dalam dunia keselamatan kerja dikenal istilah assembly point, yaitu titik kumpul yang menjadi tempat seluruh orang berkumpul saat terjadi keadaan darurat. Di sanalah setiap individu kembali disatukan oleh tujuan yang sama.
Dalam makna yang lebih luas, gedung ICATT dapat menjadi assembly point intelektual bagi para alumninya. Sebuah ruang tempat gagasan bertemu, pengalaman dipertukarkan, dan solusi atas berbagai persoalan umat dirumuskan bersama.
Di tempat inilah diskusi ilmiah, kajian strategis, penelitian, pelatihan kader, hingga perumusan sikap terhadap isu-isu keumatan dapat tumbuh secara berkesinambungan. Bukan berarti semua kegiatan harus berlangsung di sekretariat. Namun sekretariat seyogianya menjadi jantung yang memompa energi dan arah gerak organisasi.
ICATT sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar. Organisasi ini dihuni oleh para akademisi, ulama, dai, peneliti, birokrat, dan profesional dengan kapasitas keilmuan yang tidak diragukan. Potensi tersebut seharusnya mampu mengantarkan ICATT terbang lebih tinggi dan memainkan peran yang lebih strategis di tengah masyarakat.
Umat membutuhkan kehadiran lembaga-lembaga yang mampu memberikan panduan ilmiah, pencerahan, dan solusi atas berbagai persoalan yang terus berkembang. Ketika muncul perdebatan publik mengenai isu-isu keagamaan, sosial, pendidikan, maupun kebangsaan, suara ICATT seharusnya dapat hadir sebagai rujukan yang menenangkan, mencerahkan, dan berlandaskan ilmu.
Untuk itu, ICATT perlu menjaga independensinya dari kepentingan politik praktis. Dengan demikian, setiap pandangan yang disampaikan benar-benar lahir dari kejujuran ilmiah dan tanggung jawab moral terhadap umat.
Pada akhirnya, masa depan ICATT tidak ditentukan oleh kokohnya bangunan yang berdiri hari ini. Masa depan ICATT ditentukan oleh sejauh mana bangunan itu mampu melahirkan gagasan, pemikiran, dan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Bisa jadi gedung ini masih memiliki berbagai keterbatasan dari sisi sarana dan prasarana. Namun sejarah sering mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari tempat yang megah. Ia justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana yang dipenuhi keikhlasan, kesungguhan, dan kecintaan terhadap ilmu.
Mudah-mudahan gedung baru ICATT menjadi lebih dari sekadar bangunan. Ia menjadi rumah gagasan, titik temu para cendekiawan, dan tempat lahirnya pemikiran-pemikiran besar yang akan menerangi perjalanan umat di masa depan.
Sebab jika tidak, bangunan yang tampak kokoh itu mungkin hanya akan menjadi monumen kenangan tempat orang mengenang masa lalu, tetapi gagal menyiapkan masa depan.
Editor: Ryan Saputra
