
Makassar (KOMINFO ICATT) – Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) Indonesia resmi mencanangkan arah baru organisasi sebagai kekuatan intelektual strategis yang berdampak bagi Indonesia dan dunia. Komitmen tersebut ditegaskan dalam rapat perdana yang digelar pada Selasa, (7/4).
Rapat dipandu oleh Sekretaris Jenderal ICATT, Ilham Iskandar, dan diikuti oleh jajaran pengurus secara daring, mengingat sejumlah peserta berada di luar kota hingga luar negeri.
Ketua Umum ICATT, Mallingkai Ilyas, dalam pemaparannya menegaskan bahwa ICATT tidak lagi sekadar menjadi wadah silaturahmi alumni, tetapi harus bertransformasi menjadi organisasi yang berperan aktif dalam pengembangan pemikiran Islam moderat dan memberikan kontribusi nyata di berbagai sektor.
“ICATT diarahkan menjadi organisasi yang moderat, inklusif, dan memiliki daya jangkau global melalui penguatan dakwah, pendidikan, sosial, jaringan, dan kontribusi nasional,” ujarnya.
Ia menjelaskan, transformasi tersebut mencakup perubahan kelembagaan dari komunitas berbasis kekeluargaan menjadi institusi intelektual yang berorientasi pada dampak nyata. Penguatan fondasi organisasi juga menjadi prioritas melalui pembenahan database anggota, penyempurnaan legalitas, serta restrukturisasi kelembagaan, termasuk pembentukan unit bisnis dan ekonomi umat yang dikelola secara profesional.
Dalam menghadapi era digital, ICATT menekankan pentingnya penguatan branding dan digitalisasi organisasi. Langkah konkret yang akan dilakukan antara lain pengembangan website, optimalisasi media sosial, dan pembuatan video profil guna meningkatkan visibilitas dan jangkauan publik.
Dari sisi program, ICATT akan memprioritaskan kegiatan berdampak luas seperti penguatan riset dan publikasi ilmiah, dan pengembangan narasi Islam moderat. Selain itu, kolaborasi dengan pemerintah dan lembaga strategis akan menjadi bagian penting dalam memperluas kontribusi organisasi.
Meski demikian, Mallingkai mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi, di antaranya pengelolaan data keanggotaan yang belum optimal, kelengkapan legalitas organisasi, keterbatasan pendanaan, dan lemahnya branding dan eksposur publik.
Dalam sesi diskusi, Ketua I DPP ICATT, Ihsan Zainuddin, menekankan tiga langkah konkret yang dapat mempercepat transformasi organisasi, yakni revitalisasi, re-branding, dan rekontribusi.
Revitalisasi diarahkan untuk mengembalikan peran vital dan strategis ICATT. Re-branding dilakukan untuk menghadirkan citra organisasi yang lebih intelektual dan disegani melalui penguatan ekosistem digital. Sementara rekontribusi menitikberatkan pada peningkatan partisipasi aktif di tengah masyarakat serta kehadiran ICATT dalam mengisi ruang-ruang strategis bagi umat dan bangsa.
Sementara itu, anggota bidang Humas dan Hubungan Antar Lembaga, Tarmidzi Tahir, mengusulkan agar ICATT segera melakukan sosialisasi kepengurusan, audiensi dengan pemerintah daerah, tokoh agama, dan tokoh publik, dan melaksanakan pelantikan dan rapat kerja dalam waktu dekat.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Mallingkai menyampaikan apresiasi dan memastikan bahwa langkah-langkah strategis akan segera ditindaklanjuti. Dalam waktu 1–2 bulan ke depan, ICATT akan fokus pada pembenahan internal, percepatan penerbitan SK pengurus, pelaksanaan pelantikan dan rapat kerja, penguatan narasi wasathiyah di ruang digital, dan pelengkapan perangkat organisasi sesuai ketentuan yang berlaku di Indonesia.
Rapat perdana ini menjadi momentum awal konsolidasi dan percepatan transformasi ICATT sebagai organisasi yang tidak hanya memperkuat jejaring alumni, tetapi juga tampil sebagai kekuatan intelektual strategis yang mampu menjawab tantangan zaman. (Ryan)
