
Oleh: Prof. Dr. H. Afifuddin Harisah, Lc., MA. (Anggota Dewan Pakar ICATT)
Ketika kita membaca kitab hadis Bukhari dan Muslim di pesantren, pernahkah kita sadar bahwa kedua imam agung itu adalah orang Persia? Bahwa sebagian besar ulama yang mewariskan ilmu Nabi lahir dari tanah yang dulu disebut Persia, yang kini bernama Iran?
Ironisnya, masih ada umat Islam yang meragukan Iran hanya karena perbedaan mazhab atau pengaruh propaganda Barat. Padahal, fakta sejarah membuktikan: Iran bukan bagian asing dari Islam; darah mereka telah berpadu secara fisik dengan darah Nabi Muhammad saw. Hubungan ini bukan sekadar simbolis, melainkan ikatan nasab yang nyata dan terus berlanjut hingga hari ini.
Ketika pasukan Islam di masa Khalifah Umar bin Khattab menaklukkan Persia, tidak terjadi pemusnahan, melainkan perpaduan agung dua peradaban. Putri terakhir Kisra Persia, Syahrbanu, dinikahkan dengan Husain bin Ali, cucu kesayangan Rasulullah Saw. Dari rahim putri Persia itulah lahir Ali Zainal Abidin, Imam keempat yang dihormati kaum muslimin. Artinya, seluruh Imam keturunan Husain adalah darah daging Persia dari pihak ibu.
Mereka adalah bukti hidup bahwa Islam dan Persia telah menyatu dalam ikatan keluarga yang tidak terputus. Imam Ja’far Shadiq, Imam Musa Kadzim, hingga Imam Mahdi yang diyakini, semuanya mewarisi darah Persia. Jadi, ketika kita bicara tentang Iran, kita sedang bicara tentang sanak saudara kita sendiri; keturunan Nabi yang lahir dari rahim ibu-ibu Persia.
Dalam sejarah keilmuan Islam, bangsa Persia menjadi pilar utama. Nabi saw. bersabda, “Seandainya iman itu berada di gugusan bintang Tsurayya, niscaya orang-orang dari Persia akan meraihnya.” Terbukti, siapa yang membukukan hadis-hadis Nabi? Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, dan Ibnu Majah; semuanya dari Persia.
Siapa yang merumuskan tata bahasa Arab agar Al-Qur’an terbaca dengan benar? Imam Sibawaih, orang Persia. Siapa ulama tasawuf, filsafat, kedokteran, dan astronomi yang mengharumkan Islam? Rata-rata adalah keturunan Persia.
Sungguh ironis jika ada Muslim yang merendahkan Iran, padahal ilmu agamanya diwarisi dari ulama Persia. Tanpa mereka, kita mungkin masih bingung membedakan hadis sahih dan daif. Darah intelektual Persia mengalir dalam pembuluh darah keilmuan Islam.
Lalu, bagaimana dengan realitas politik hari ini? Perhatikan peta Timur Tengah. Negara-negara Arab tidak sungkan-sungkan menjalin hubungan mesra dengan Israel. Normalisasi terjadi di mana-mana. Yang dulu vokal membela Palestina, kini diam seribu bahasa. Di tengah hipokritisme itu, siapa yang masih berani berteriak anti-Israel? Siapa yang masih memasok senjata ke Hamas? Siapa yang konsisten membangun poros perlawanan dari Teheran hingga Beirut?
Jawabannya hanya satu: Iran.
Dukungan mereka kepada Palestina bukan basa-basi politik, melainkan doktrin ideologis sejak Revolusi Islam 1979. Mereka tidak pernah mengakui Israel, tidak pernah menjual Palestina demi investasi, dan tidak takut akan ancaman AS. Membela Iran berarti membela diri sendiri, membela Al-Quds, dan membela harga diri umat Islam yang terinjak-injak.
Jika propaganda Barat berhasil menjatuhkan Iran, maka tamatlah riwayat perlawanan terhadap Zionis di kawasan ini. Darah Nabi yang mengalir di Iran layak kita bela—bukan karena fanatisme mazhab, melainkan karena ikatan kekerabatan dan perjuangan yang sama.
Editor: Andi Fakhrur Riza
