
Oleh: Dr. Syahrir Nuhun, Lc., M.Th.I (Khalifah Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassari dan Dewan Pakar ICATT)
“Tasawuf adalah akhlak yang baik. Siapa yang tidak memiliki akhlak yang baik, maka tidak ada tasawuf pada dirinya.” (Syekh Yusuf al-Makassari)
Salah satu tuduhan yang kerap dialamatkan kepada para sufi adalah bahwa tasawuf tidak dikenal pada masa Nabi Muhammad Saw., maupun para sahabat. Karena itu, tasawuf sering dianggap berasal dari luar Islam dan dipandang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.
Pandangan semacam ini lahir dari ketidakmampuan membedakan antara tasawuf sebagai nama sebuah disiplin ilmu dan tasawuf sebagai praktik pengamalan spiritual.
Sebagai nama ilmu, istilah tasawuf memang belum dikenal pada masa Nabi Saw., sebagaimana istilah-istilah lain seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, atau Ushul Fikih. Namun, tentu saja hal tersebut tidak berarti bahwa aktivitas menafsirkan Al-Qur’an, meriwayatkan hadis, memverifikasi sanad, maupun mengistinbath hukum belum dilakukan pada masa itu. Semua aktivitas tersebut justru telah dipraktikkan langsung oleh Nabi Saw., dan para sahabat.
Begitu pula dengan tasawuf. Meskipun istilahnya belum dikenal sebagai nama disiplin ilmu, esensi pengamalannya telah diajarkan dan dicontohkan sejak masa Rasulullah Saw.
I. Mengurai Makna dan Asal Usul Kata Tasawuf
Para ulama tasawuf memiliki penjelasan yang beragam terkait asal-usul kata tasawuf maupun hakikat maknanya. Syekh Ahmad Zarruq, misalnya, dalam “Qawa’id at-Tasawuf” menyebutkan beberapa pendapat mengenai derivasi kata tasawuf, di antaranya:
- Berasal dari kata sufah (bulu), karena seorang sufi menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah seperti bulu yang terhempas tanpa daya.
- Berasal dari kata suf al-qafa (bulu domba), sebagai simbol kelembutan dan ketenangan.
- Berasal dari kata sifah (sifat), karena tasawuf berorientasi pada pembentukan sifat-sifat terpuji dan meninggalkan sifat tercela.
- Berasal dari kata safa (kesucian), yakni penyucian hati dan jiwa.
- Berasal dari kata suffah, yaitu serambi Masjid Nabawi yang menjadi tempat tinggal para sahabat yang hidup sederhana dan mengabdikan diri untuk ibadah.
Meskipun banyak pendapat dikemukakan, Imam al-Qusyairi menilai sebagian besar derivasi tersebut memiliki kelemahan dari sisi kebahasaan. Sebagian ulama mengaitkan tasawuf dengan kata suf (wol), karena para sufi dahulu identik dengan pakaian wol sederhana.
Namun, menurut Imam al-Qusyairi, penggunaan pakaian wol bukanlah ciri eksklusif kaum sufi. Pendapat lain menghubungkan kata sufi dengan suffah atau safa, tetapi secara tata bahasa Arab dinilai kurang tepat.
Karena itu, Imam al-Qusyairi menyimpulkan bahwa istilah “sufi” telah menjadi sebuah laqab atau identitas yang tidak lagi membutuhkan penelusuran derivasi bahasa secara ketat. Pandangan ini juga ditegaskan oleh gurunya, Abu Ali ad-Daqqaq, bahwa istilah sufi telah menjadi penamaan yang populer dan diterima luas dalam tradisi keilmuan Islam.
II. Makna Tasawuf Menurut Para Ulama
Dalam menjelaskan pengertian tasawuf secara istilah, Syekh Zarruq menyebutkan bahwa terdapat lebih dari dua ribu definisi yang diberikan para ulama. Banyaknya definisi tersebut bukan menunjukkan bahwa tasawuf adalah ilmu yang kabur, tetapi karena cakupan tasawuf memang sangat luas.
Tasawuf bukan sekadar teori yang dihafal dalam kepala, melainkan pengalaman ruhani yang dirasakan dalam hati dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena pengalaman spiritual setiap orang berbeda, maka penjelasan para ulama tentang tasawuf pun beragam.
Al-‘Allamah Ibn Ziqri al-Fasi, dalam syarahnya terhadap “Qawa’id at-Tasawuf” mengutip pernyataan Sidi Abu Abdillah bin ‘Ubbad:
“Tasawuf secara keseluruhan adalah keadaan seorang hamba yang sesuai dengan rida Allah Swt. dan cinta-Nya kepadanya.”
Al-Fasi kemudian menjelaskan bahwa tasawuf memiliki dua dimensi: ilmu dan amal. Sebagai ilmu, tasawuf berfungsi meluruskan akidah dan tujuan hidup seorang mukallaf. Adapun sebagai amal, tasawuf bertujuan membentuk manusia yang memiliki adab mulia di hadapan Allah Swt., sehingga mampu mewujudkan penghambaan kepada-Nya dalam setiap keadaan dan waktu.
III. Makna Tasawuf Menurut Syekh Yusuf al-Makassari
Syekh Yusuf al-Makassari –Qaddasallahu Sirrahu– memberikan penjelasan yang sangat khas tentang tasawuf dalam berbagai risalahnya. Dalam “Risalah Zubdatul Asrar”, beliau menulis:
“Para ulama tasawuf berkata: Tasawuf adalah akhlak yang baik. Barang siapa yang tidak memiliki akhlak yang baik, maka tidak ada tasawuf baginya.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa inti tasawuf menurut Syekh Yusuf adalah akhlak. Tasawuf bukan pertama-tama soal pakaian, simbol, atau istilah-istilah spiritual yang rumit, tetapi tentang pembentukan karakter dan kemuliaan perilaku.
Pandangan ini sejalan dengan pernyataan Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam “Madarij as-Salikin”:
“Agama seluruhnya adalah akhlak. Siapa yang mengunggulimu dalam akhlak, maka ia telah mengunggulimu dalam agama.”
Pernyataan serupa juga dinukil dari al-Kattani:
“Tasawuf adalah akhlak. Maka siapa yang mengunggulimu dalam akhlak, ia telah mengunggulimu dalam tasawuf.”
Selain itu, Syekh Yusuf juga menuliskan:
“Tasawuf; awalnya adalah memurnikan tujuan hanya untuk Allah, dan akhirnya adalah berakhlak dengan akhlak Allah.”
Maksud dari “berakhlak dengan akhlak Allah” adalah meneladani sifat-sifat mulia yang Allah cintai, seperti kasih sayang, kelembutan, pemaaf, dan kepedulian terhadap sesama. Dalam risalah yang sama, Syekh Yusuf kembali menjelaskan:
“Tasawuf; awalnya adalah ilmu, pertengahannya adalah amal, dan akhirnya adalah karunia.”
Pernyataan ini menggambarkan tahapan perjalanan tasawuf: dimulai dengan ilmu, diwujudkan melalui amal, lalu berujung pada karunia Allah Swt. Seseorang tidak cukup hanya mengetahui akhlak yang baik secara teori, tetapi harus mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Dari pengamalan itulah lahir pertolongan dan karunia Allah Swt.
Dari berbagai penjelasan tersebut, tampak bahwa orientasi tasawuf menurut Syekh Yusuf al-Makassari lebih menitikberatkan pada pengamalan nilai-nilai spiritual dan akhlak dibanding sekadar perdebatan terminologi keilmuan. Tasawuf, pada akhirnya, adalah jalan pembentukan manusia yang beradab, lembut, ikhlas, dan dekat dengan Allah Swt.
Editor: Afriadi Ramadhan
(Tulisan Berseri Ajaran Syekh Yusuf al-Makassari
Menjelang 400 Tahun Lahirnya Syekh Yusuf al-Makassari, 3 Juli 2026)
