
Makassar, Tim Formatur hasil Musyawarah Besar (Mubes) VIII Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICATT) Indonesia menggelar rapat dalam rangka melengkapi perangkat organisasi, khususnya penyusunan struktur kepengurusan dan perumusan program kerja ke depan. Rapat berlangsung di Kedai UQ Ayah, Makassar, Sabtu (4/4).
Ketua Umum ICATT Indonesia, Mallingkai Ilyas, dalam sambutannya menegaskan bahwa ICATT harus melakukan transformasi menuju organisasi yang lebih adaptif, progresif, dan berdampak luas bagi masyarakat. Ia menekankan pentingnya menjadikan ICATT sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan sosial.
“ICATT harus menjadi tempat lahirnya gagasan besar, ruang tumbuhnya kader-kader unggul, pusat penyebaran nilai-nilai wasathiyah, dan titik temu aksi nyata untuk masyarakat. Mari kita hidupkan ruang ini dengan aktivitas yang produktif, kolaboratif, dan berdampak nyata,” tegasnya.
Dalam rapat tersebut, Mallingkai Ilyas mengusulkan struktur organisasi ICATT lebih bersifat fungsional dan berbasis kebutuhan riil anggota, bukan sekadar pendekatan struktural formal. Sejumlah bidang akan dilebur untuk efisiensi, sekaligus dibentuk bidang-bidang baru yang dinilai relevan dengan tantangan zaman.
Beberapa bidang baru yang dirancang antara lain Bidang Komunikasi dan Informasi, Bidang Hubungan Masyarakat dan Antar Lembaga, Bidang Penanggulangan Terorisme, Radikalisme, dan Ekstremisme, dan Bidang Olahraga dan Seni. Selain itu, juga akan dibentuk sejumlah lembaga strategis seperti Lembaga Bahasa, Lembaga Dakwah, dan Lembaga Bisnis dan Ekonomi Umat.
Berbagai pandangan konstruktif turut disampaikan oleh anggota Tim Formatur yang juga merupakan Dewan Pakar ICATT. Salah satunya, Prof. Muammar, menekankan bahwa penyusunan struktur organisasi harus tetap mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
“Struktur organisasi bukan hanya formalitas, tetapi harus memiliki nilai guna dan memberi dampak nyata bagi umat,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Andi Aderus mengingatkan agar peran ICATT tidak dipersempit hanya pada ruang akademik semata. Menurutnya, ICATT harus hadir dengan program-program yang lebih luas dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
“Pengabdian kita tidak hanya berhenti sebagai dosen atau guru. Banyak tantangan dan peluang di luar sana yang bisa kita jawab melalui peran ICATT,” ungkapnya.
Rapat Tim Formatur ini menjadi langkah awal yang strategis dalam mengokohkan arah gerak ICATT pasca Mubes VIII, sekaligus menegaskan komitmen organisasi untuk tampil sebagai kekuatan intelektual yang solutif, inklusif, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan umat dan bangsa.
