
Oleh: Prof. Dr. H. Lukman Arake, Lc., MA. (Dewan Pakar ICATT)
Sudah menjadi maklum bahwa wukuf di Arafah merupakan salah satu rukun haji. Dalam pandangan ahli Tasawwuf, wukuf di Arafah tidak hanya sekedar pelaksanaan ibadah lahiriah tetapi juga sebagai manifestasi dan rahasia mendalam.
Bagi mereka, wukuf di Arafah bukan hanya kehadiran fisik di tempat dan waktu tertentu, melainkan sebuah wukuf hati dan spiritual yang bertujuan untuk mencapai kedekatan ilahi dan melepaskan diri dari keterikatan duniawi.
Kaum sufi memandang Arafah sebagai stasiun penyucian dan penyingkapan (tajalli) bagi hati dan jiwa. Menurut mereka, pada hari itu, Allah menampakkan diri-Nya kepada para tamu-Nya di tempat yang agung tersebut dengan memberikan mereka kesempatan untuk menghapus dosa dan kesalahan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, menyatakan bahwa Arafah adalah tempat munculnya tajalli ilahi, di mana Allah memandang hati para hamba-Nya. Salah satu rahasia mendalam wukuf di Arafah menurut sufi adalah pelepasan diri sepenuhnya dari materi dan keterikatan duniawi.
Jemaah haji di Arafah meninggalkan perhiasan dunia dan mengenakan pakaian ihram yang sederhana, yang melambangkan kesetaraan semua makhluk di hadapan Allah, serta pengingat akan kematian dan kehidupan setelahnya. Pelepasan ini memungkinkan jiwa untuk membebaskan diri dari belenggu tubuh dan alam materi, agar dapat terhubung dengan alam gaib.
Nama Arafah sendiri memiliki makna mendalam dalam tasawuf, yaitu berasal dari kata ma’rifah yang berarti pengetahuan. Pada hari itu, seorang hamba mengenal Tuhannya dengan pengetahuan yang sebenarnya, dan mengakui keesaan-Nya yang mutlak, serta kelemahan dan kebutuhannya kepada-Nya.
Ini adalah momen merasakan keagungan Sang Pencipta dan kerendahan makhluk yang mengarah pada pencapaian maqam penghambaan yang hakiki. Karenanya sebagian kaum bijak berkata: Siapa yang tidak mengenal Tuhannya di Arafah, kapan lagi ia akan mengenal-Nya?
Para sufi lebih menekankan pada wukuf hati daripada wukuf fisik. Yang penting bukanlah sekadar berdiri di Jabal Arafah, melainkan yang lebih penting adalah kehadiran hati, kekhusyukan, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.
Pada hari Arafah, hati harus lebih disibukkan dengan zikir, doa, dan tobat yang tulus, dengan menghadirkan keagungan dan kebesaran Allah. Para sufi mengatakan: Bukanlah wukuf di Arafat, melainkan wukuf bersama Arafah. Hari Arafah diyakini sebagai hari turunnya limpahan rahmat dan keberkahan bagi hamba-Nya.
Setiap hamba pada hari ini berusaha untuk menarik limpahan tersebut, memohon kedekatan dengan Allah, dan tersinari oleh cahaya-cahaya-Nya. Hari Arafah adalah hari di mana harapan terwujud dan doa-doa dikabulkan.
Dalam beberapa interpretasi, sebagian ahli Tasawuf melihat Arafah sebagai simbol “kesatuan wujud” dalam arti menyaksikan manifestasi Allah dalam segala sesuatu, bukan dalam arti penyatuan (hulul atau ittihad).
Semua jemaah haji, dengan perbedaan warna kulit dan bahasa, mereka semua berkumpul di satu tempat dan satu waktu, menghadap kepada satu Tuhan yakni Allah Jalla fi Ulah. Semua itu melambangkan kesatuan ciptaan sekaligus bahwa Allah adalah tujuan akhir dari seluruh keberadaan. Yaa Rabb.
Editor: Ryan Saputra
