
Oleh: Afriadi Ramadhan, Lc. (Anggota Bidang Kominfo ICATT)
Kemarin sore, saya disuruh mama untuk membawa beberapa galon kosong ke rumah tetangga. Ketika kutanya untuk apa, mama menjawab kalau kita perlu stok air jernih untuk masak, sedangkan air keran di rumah sudah mulai keruh, pertanda hampir habis karena kemarau panjang.
Saya bersyukur karena air di rumah masih mengalir, cukup untuk kebutuhan inti seperti mandi dan mencuci. Berbeda dengan keadaan di rumah tetangga lain yang bahkan kerannya sudah tidak mengeluarkan air lagi. Kecuali di tengah malam, ada yang keluar tetapi sangat sedikit. Butuh waktu sampai tiga jam hanya untuk satu ember bisa terisi penuh.
Kalau air semakin susah dan terbatas begini, maka aktivitas dan kebutuhan kita jadi tersendat. Jika bukan dengan air, maka kita akan pakai apa untuk masak, makan, minum, berwudu, mandi, dan bersih-bersih?
Air adalah anugerah Tuhan yang mahal tapi sering kita lupakan. Dalam Al-Quran, tertulis bahwa Allah menjadikan segala sesuatu itu hidup dari air (QS. Al-Anbiya ayat 30). Ketika ketersediaannya masih aman, kita sesuka hati menggunakannya. Nanti ketika kemarau panjang dan air menjadi langka, baru terasa bahwa hidup akan susah.
Dan kemarau bukan hanya persoalan tanah kering sehingga kita harus hemat air ketika mandi, tetapi juga akan berdampak pada pertanian, peternakan, kesehatan dan ekonomi masyarakat. Maka dalam keadaan seperti ini, kita perlu kembali kepada ajaran Islam yang telah mengatur secara sempurna setiap aspek kehidupan.
Rasulullah saw hadir bukan hanya untuk mengajarkan bagaimana menyembah Allah swt, tetapi juga bagaimana menjaga alam raya sebagai sesama ciptaan-Nya. Lagipula umat manusia lahir dengan membawa gelar berharga sebagai “Khalifah” di muka bumi (QS. Al-Baqarah ayat 30). Makanya kita berhak memanfaatkan segala sumber daya yang tersedia.
Namun, hak selalu hadir bersama dengan kewajiban. Jangan lupa bahwa manusia juga yang paling bertanggung jawab untuk menjaga bumi dan sumber daya yang ada. Jauh sebelum istilah konservasi lingkungan dan krisis iklim menjadi bagian dari diskursus modern, Nabi saw., telah mengajarkan umatnya untuk memperlakukan alam secara adil dan bertanggung jawab.
Pakai Secukupnya dan Jangan Berlebihan
Hal pertama dan terpenting adalah prinsip tidak boros dan berlebih-lebihan, termasuk ketika menggunakan air. Allah swt mempersilakan manusia untuk memakai sumber daya, makan dan minumlah tapi jangan berlebihan (QS. Al-A’raf ayat 31). Prinsip ini berlaku dalam semua hal, termasuk ketika menggunakan air.
Imam An-Nawawi dalam kitab “Khulasat al-Ahkam fi Muhimmat as-Sunan wa Qawaid al-Islam” menuliskan sebuah hadis peringatan Rasulullah kepada orang yang berwudu. “Katakan kepada orang yang berwudu: jangan berlebihan!”
Jadi meskipun dalam banyak kesempatan, Nabi menganjurkan untuk menjaga dan mengutamakan kebersihan, tetapi secara bersamaan Nabi juga sangat peduli dengan lingkungan.
Salah satu buktinya adalah riwayat dari khadim terdekatnya, Sayyidina Anas bin Malik ra. Beliau pernah menceritakan bahwa Rasullullah kalau mandi hanya menggunakan air seukuran lima mud, sedangkan untuk berwudu hanya memakai satu mud saja (HR. Bukhari dan Muslim).
Kalau diperkirakan, satu mud itu seukuran dengan segelas air. Maka bayangkan saja bagaimana Nabi itu bersuci dengan sangat efektif. Saya jadi teringat beberapa catatan pengajian fikih dari kitab ulama nusantara, Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani. Kalau ingin berwudu dengan sempurna, maka lakukanlah sunnah dengan lengkap.
Salah satunya adalah dengan mencuci/membasuh anggota wudu sebanyak tiga kali. Itu hukumnya sunnah. Tetapi kalau lebih dari tiga kali maka hukumnya berubah drastis menjadi makruh, karena termasuk israf (pemborosan air).
Jadi kita mungkin saja melakukan kesalahan ketika berwudu, bahkan dengan niat mengikuti sunnah Nabi. Itu jika praktik wudu kita menyalahi maqasid, ketika penggunaan air tidak dilakukan dengan cara yang bijak.
Bersama dalam Takwa
Kesempurnaan syariat Islam adalah kita masih diajarkan untuk tetap berbagi meski dalam keterbatasan sekalipun. Dari kacamata syariat dan ihsan, kemarau panjang juga menjadi ajang untuk merawat persaudaraan. Jika kita menemukan orang lain yang sedang sulit karena kekeringan, maka menyediakan air untuknya bernilai sedekah dan berpahala di sisi Allah swt.
Isi perintahnya sangat jelas dalam ayat Al-Quran, “Saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan” (QS. Al-Maidah ayat 2). Bahkan dalam suatu riwayat dari Sayyidina Anas ra., Nabi saw., menggambarkan bahwa cinta dan kepedulian terhadap sesama adalah bagian dari kesempurnaan iman. “Tidak beriman salah seorang di antara kalian, sampai dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sedekah air bersih bukan hanya sekadar pemberian biasa. Sebab ketika kita memberi air, itu sama saja dengan memberi kehidupan. Dengan itu, orang lain menjalani aktivitas dan beribadah, dan kita juga akan mendapat imbalan pahala yang sama.
Menjaga Alam adalah Ibadah
Pada akhirnya, hidup terlalu singkat untuk mensyukuri pemberian Allah swt., hanya dengan ibadah ritual saja. Maka dari itu, peduli terhadap lingkungan dan kehidupan juga merupakan ibadah.
Usaha mendekatkan diri kepada Sang Pencipta tidak hanya dilakukan dengan sujud dan berdoa, tetapi juga dengan menggunakan sumber daya secara efektif dan membantu sesama yang sedang kesulitan.
Editor: Ryan Saputra
