
Gowa (KOMINFO ICATT) – Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Sulawesi Selatan, Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Cabang Sulselbar, BBC Motivator, Yayasan Nur Semesta, dan IIKV sukses menyelenggarakan Seminar Internasional bertema “Tajdîd ad-Da‘wah wa I‘âdatu Binâ’ al-Wa‘yi al-Islâmî fî Zhilli Tahaddiyât al-Ghazw al-Fikrî: Manhaj Sa‘îd an-Nûrsî Namûdzajan” (Pembaruan Dakwah dan Rekonstruksi Kesadaran Islam di Tengah Tantangan Invasi Pemikiran: Metode Said Nursi sebagai Sebuah Model).
Kegiatan yang berlangsung pada Ahad, (21/6) di Aula Syekh Mutawalli As-Sya’rawi, Gedung ICATT Kabupaten Gowa ini diikuti sekitar 250 peserta secara luring dan daring. Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, dai dan mubalig, penyuluh agama, dosen, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat.
Seminar menghadirkan narasumber dari Mesir, Turki dan Makassar, yaitu Syekh Ahmad Mustafa, Pengasuh Madrasah Al-Imam Badiuzzaman Said Nursi di Kairo, Mesir; Syekh Sabri Okur, Pengasuh Madrasah Al-Imam Badiuzzaman Said Nursi di Umraniya, Istanbul, Turki; dan Prof. Dr. H. Andi Aderus, Lc., M.A., Wakil Rektor II UIN Alauddin Makassar sekaligus Ketua Yayasan ICATT. Diskusi berlangsung dengan dukungan penerjemah bahasa Arab dan Turki sehingga peserta dapat mengikuti materi secara optimal.
Seminar yang dipandu oleh Dr. H. Andi Abd. Hamzah, Lc, MA (moderator) ini menghadirkan ruang dialog intelektual yang membedah secara mendalam pemikiran dan metode dakwah ulama besar Turki, Badiuzzaman Said Nursi, yang dikenal luas melalui karya monumentalnya Risalah an-Nur. Para narasumber menjelaskan bahwa metode dakwah Said Nursi menitikberatkan pada penguatan akidah, pendidikan, tradisi membaca, pengembangan karya tulis, dan dialog intelektual yang konstruktif sebagai instrumen utama dalam membangun kesadaran keislaman masyarakat.
Dalam paparannya, para pembicara menilai bahwa pendekatan dakwah Said Nursi sangat relevan dengan tantangan dakwah kontemporer. Di tengah derasnya arus informasi digital, maraknya disinformasi, dan berbagai bentuk invasi pemikiran yang memengaruhi cara pandang masyarakat, penguatan literasi dan tradisi intelektual menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.
Syekh Ahmad Mustafa menjelaskan bahwa Said Nursi memandang penguatan iman sebagai fondasi utama dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Menurutnya, dakwah harus mampu menjawab persoalan masyarakat dengan pendekatan yang rasional, argumentatif, dan berbasis ilmu pengetahuan tanpa kehilangan ruh spiritualitas Islam.
Senada dengan itu, Syekh Sabri Okur menekankan pentingnya membangun kesadaran umat melalui pendidikan dan literasi. Ia menilai bahwa keberhasilan gerakan Said Nursi di Turki tidak terlepas dari kuatnya budaya membaca, menulis, dan pembinaan intelektual yang dilakukan secara berkelanjutan di tengah masyarakat.
Sementara itu, Prof. Dr. H. Andi Aderus, Lc., M.A. mengungkapkan bahwa pemikiran Said Nursi memberikan pelajaran penting bagi para dai dan akademisi dalam menghadapi tantangan dakwah di era modern. Menurutnya, dakwah harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Ketua Umum DPP ICATT Indonesia H. Mallingkai Ilyas, yang dijumpai disela-sela kegiatan menegaskan bahwa tantangan pemikiran yang dihadapi umat Islam saat ini tidak cukup dijawab dengan retorika semata, tetapi memerlukan penguatan tradisi intelektual yang berkelanjutan.
“ICATT merupakan gerakan intelektual yang berkomitmen membangun narasi-narasi positif di ruang digital serta memperkuat literasi umat. Kami siap berkolaborasi dengan seluruh ormas Islam untuk mendukung gerakan literasi melalui penulisan buku-buku tematik dan menghadirkan narasumber terbaik dalam membahas berbagai problematika keumatan. Karena itu, penguatan ilmu pengetahuan, literasi, dan dakwah yang mencerahkan menjadi kebutuhan penting dalam menghadapi berbagai tantangan pemikiran saat ini,” ujarnya.
Menurut Mallingkai, perkembangan teknologi informasi harus dimanfaatkan sebagai sarana memperluas dakwah yang berlandaskan ilmu pengetahuan, argumentasi yang sehat, dan nilai-nilai Islam yang moderat. Ia menilai bahwa metode Said Nursi memberikan teladan bahwa perubahan sosial tidak hanya dibangun melalui ceramah, tetapi juga melalui pendidikan, karya intelektual, dan pembinaan karakter masyarakat.
Salah seorang peserta seminar, Azhar, mengaku mendapatkan perspektif baru tentang pentingnya membangun dakwah yang berbasis ilmu pengetahuan dan literasi di tengah derasnya arus informasi digital.
“Metode dakwah yang ditawarkan Said Nursi sangat relevan dengan kondisi saat ini. Beliau tidak hanya mengajarkan pentingnya memperkuat keimanan, tetapi juga mendorong umat untuk berpikir kritis, gemar membaca, dan mampu memahami realitas sosial secara bijak. Pendekatan yang damai, rasional, dan konstruktif seperti inilah yang dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan pemikiran di era digital,” ungkapnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan kesimpulan seminar yang menegaskan bahwa penguatan keimanan harus berjalan beriringan dengan pengembangan kapasitas intelektual, budaya literasi, dan kemampuan membaca realitas sosial. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi perubahan zaman.
Seminar internasional ini sekaligus menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara lembaga dakwah, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan Islam, dan para cendekiawan dalam membangun literasi keagamaan masyarakat. Di tengah maraknya informasi yang tidak terverifikasi di media sosial, dakwah yang mengedepankan hikmah, ilmu pengetahuan, serta dialog yang produktif dinilai semakin mendesak untuk dikembangkan.
Melalui kegiatan ini, DPP ICATT bersama seluruh mitra penyelenggara berharap lahirnya gerakan dakwah yang lebih adaptif, berbasis literasi, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar nilai-nilai Islam yang autentik. Seminar ini juga menjadi bukti bahwa kolaborasi berbagai elemen umat merupakan kunci dalam membangun kesadaran keislaman yang kuat, moderat, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. (Ryan)
