Press ESC to close

Dewan Pakar ICATT Paparkan Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Ketahanan Ekonomi Global di UIN Alauddin

Makassar (KOMINFO ICATT) – Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICATT), Najib Tabhan menjadi narasumber dalam kegiatan Stadium General yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar, Selasa, (19/5) di Aula FEBI UIN Alauddin Makassar.

Kegiatan yang mengangkat tema “Peran Ekonomi Syariah dalam Memperkuat Ketahanan terhadap Krisis Energi Akibat Konflik di Timur Tengah” tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Muslimin H. Kara, Najib Tabhan, dan Muh. Fardan Ngoyo, yang dimoderatori oleh Samsul.

Dalam pemaparannya, Najib Tabhan menjelaskan bahwa konflik Iran dan Amerika Serikat merupakan persoalan geopolitik global yang kompleks dan tidak bisa dipandang hanya sebagai konflik bilateral semata. Menurutnya, akar konflik tersebut sangat berkaitan dengan perebutan energi, strategi politik global, dan ketimpangan dalam sistem internasional.

Ia menegaskan bahwa Timur Tengah memiliki posisi strategis dalam percaturan dunia karena kawasan tersebut merupakan pusat cadangan energi global dengan jalur perdagangan internasional yang sangat vital.

“Energi bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga instrumen kekuatan politik global. Stabilitas Timur Tengah sangat menentukan stabilitas ekonomi dunia,” jelasnya di hadapan peserta Stadium General.

Dalam materinya, Najib Tabhan menguraikan bagaimana ketergantungan negara-negara besar terhadap minyak menjadikan kawasan Timur Tengah sebagai pusat kepentingan geopolitik internasional. Ia juga menyinggung berbagai sejarah konflik global yang dipengaruhi perebutan energi, mulai dari Perang Dunia II hingga berbagai intervensi politik di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, upaya Amerika Serikat mempertahankan dominasi energi global juga tidak bisa dilepaskan dari kepentingan menguasai sumber-sumber minyak dunia. Setelah memiliki pengaruh besar terhadap kawasan penghasil minyak seperti Venezuela dan Arab Saudi yang dikenal sebagai pemilik cadangan minyak terbesar dunia, Iran dipandang sebagai salah satu kekuatan energi strategis yang masih memiliki posisi independen dalam geopolitik internasional.

Karena itu, lanjutnya, upaya melumpuhkan kekuatan militer Iran tidak semata-mata didasarkan pada kekhawatiran terhadap ancaman bagi Israel, tetapi juga berkaitan erat dengan kepentingan penguasaan energi global. Menurutnya, kekuatan minyak Iran menjadi pertimbangan mendasar dalam dinamika politik internasional, sebagaimana pola intervensi yang pernah terjadi di sejumlah negara kawasan seperti Irak dan Libya.

Selain itu, ia memaparkan berbagai strategi negara besar dalam mengamankan energi, seperti penguasaan jalur perdagangan strategis, barter keamanan dan energi, hingga pergantian rezim di sejumlah negara penghasil minyak.

Menurutnya, ketegangan Iran–Amerika juga diperparah oleh ketidakadilan dalam rezim non-proliferasi nuklir internasional yang dinilai menciptakan hierarki kekuatan global antara negara pemilik senjata nuklir dan negara non-nuklir.

Selain itu, Najib Tabhan turut menjelaskan dinamika kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2015 yang sempat menjadi jalan diplomasi untuk meredakan ketegangan nuklir Iran. Namun keluarnya Amerika Serikat dari perjanjian tersebut pada 2018 memicu eskalasi baru di kawasan, termasuk serangan siber, sabotase fasilitas strategis, hingga meningkatnya perang proksi di Timur Tengah.

Lebih lanjut, ia memprediksi bahwa konflik Iran–Amerika ke depan cenderung berlangsung dalam pola managed escalation atau eskalasi terkelola melalui perang bayangan, operasi proksi, dan tekanan geopolitik, tanpa mengarah pada perang terbuka secara langsung.

Menurutnya, potensi gangguan terhadap Selat Hormuz menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global karena jalur tersebut merupakan salah satu pusat distribusi minyak dunia.

Dalam konteks tersebut, ekonomi syariah dinilai memiliki peluang besar dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat menghadapi gejolak global. Sistem ekonomi syariah yang menekankan prinsip keadilan, distribusi, dan keberlanjutan dipandang mampu menjadi alternatif dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah krisis energi dunia.

Kegiatan Stadium General berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa serta civitas akademika FEBI UIN Alauddin Makassar. Forum ini diharapkan mampu memperluas wawasan mahasiswa mengenai hubungan antara ekonomi syariah, geopolitik global, dan ketahanan ekonomi nasional. (Ryan)