Press ESC to close

Cegah Perundungan Verbal, ICATT bersama Kemenag Makassar Serukan Kedisiplinan Humanis di Madrasah

Makassar (KOMINFO ICATT) — Tindakan perundungan (bullying) serta kekerasan verbal di lingkungan sekolah kerap dianggap sekadar candaan biasa. Padahal, dampak psikologis yang ditinggalkan dapat mempengaruhi perkembangan anak secara jangka panjang.

Menjawab tantangan tersebut, Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) berkolaborasi dengan Kementerian Agama Kota Makassar dan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC) menggaungkan Gerakan Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan. Kampanye bertajuk “Stop Kekerasan, Lindungi Anak, Wujudkan Pendidikan Bermartabat” ini digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Boulevard Makassar, Minggu (9/8). 

Dewan Pakar ICATT yang juga Wakil Rektor IV UIN Alauddin Makassar Prof. H. Muhammad Amri, menegaskan bahwa upaya penghapusan kekerasan di dunia pendidikan bukan berarti mengabaikan kedisiplinan. 

“Disiplin tetap penting, tetapi penerapannya harus humanis. Anak perlu memahami aturan dan mengetahui konsekuensi logis ketika melakukan pelanggaran, bukan menerima hukuman fisik,” ujar Prof. Amri.

Menurutnya, pendekatan konsekuensi logis jauh lebih efektif dalam membentuk kesadaran karakter siswa tanpa merendahkan martabat mereka. Senada dengan hal tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar H. Muhammad, menyoroti maraknya kekerasan verbal di lingkungan madrasah yang sering terabaikan. 

“Di madrasah, kekerasan yang sering muncul lebih banyak dalam bentuk verbal, seperti saling mengejek dan bullying. Karena itu, kepala madrasah dan pengawas harus terus melakukan pembinaan dan memastikan lingkungan madrasah benar-benar ramah bagi anak,” ungkap H. Muhammad.

Ia menambahkan bahwa Kemenag Makassar berkomitmen penuh mendukung para pendidik dan tokoh agama untuk mengontrol serta mengevaluasi potensi konflik sejak dini. 

Sementara itu, Founder YPMIC, Prof. Hj. Nur Hidayah, mengingatkan pentingnya aspek pengasuhan berbasis kasih sayang (care-based education). Guru dan orang tua diminta lebih peka terhadap perubahan emosional anak, seperti tiba-tiba menjadi pemurung atau menyendiri, sebagai sinyal awal adanya masalah psikologis atau perundungan. 

Selain diskusi edukatif, aksi kolaboratif ini dirangkaikan dengan pelbagai kegiatan kemasyarakatan, mulai dari Senam Ego to Eco, donor darah bekerja sama dengan PMI Kota Makassar, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga edukasi kesehatan. 

Inisiatif lintas organisasi yang turut didukung oleh Permabudhi Sulsel, Pelita FKUB Sulsel, dan Pokja Pengawas PAI Sulsel ini mempertegas pesan utama, yaitu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bermartabat adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. (Afri)