
Oleh: Dr. Syahrir Nuhun, Lc., M.Th.I (Khalifah Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassari dan Dewan Pakar ICATT)
Manusia diciptakan oleh Allah Swt. dalam bentuk yang terbaik (ahsan taqwim). Kata taqwim menunjukkan kesempurnaan sesuatu sesuai dengan hakikat dan tujuannya. Kesempurnaan yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi yang lebih utama adalah aspek batin berupa berbagai potensi yang dianugerahkan Allah Swt. kepada manusia, seperti ruh, hati, dan akal.
Meskipun demikian, manusia yang berada dalam keadaan terbaik dapat terjatuh ke tingkatan yang serendah-rendahnya (asfala safilin). Kondisi ini terjadi ketika manusia hanya memperhatikan dan memenuhi kebutuhan jasmani, sementara kebutuhan ruhaninya diabaikan.
Dengan demikian, manusia tidak berada pada satu tingkatan yang sama, melainkan pada tingkatan yang berbeda-beda. Manusia yang mencapai tingkatan tertinggi itulah yang dinamakan Insan Kamil.
Tahapan Perjalanan Menuju Allah Swt.
Insan Kamil secara bahasa dapat diterjemahkan sebagai manusia paripurna. Istilah ini digunakan untuk menamai seorang hamba yang telah mencapai tingkat akhir (wushul) dalam perjalanannya menuju Allah Swt.
Tahapan perjalanan menuju Allah Swt. sangatlah banyak. Bahkan Imam Abu Ismail Abdullah Muhammad al-Ansari dalam kitab “Manazil al-Sairin” menguraikannya hingga seratus tahapan. Meskipun demikian, secara sederhana tahapan tersebut dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu tahap permulaan, tahap pertengahan, dan tahap akhir.
Tahap permulaan dinamakan iradah. Seorang hamba yang berada pada tahapan ini disebut murid. Tahap pertengahan dinamakan suluk, sedangkan hamba yang berada pada tahapan ini disebut salik. Adapun tahap akhir dinamakan wushul, dan hamba yang telah mencapainya disebut washil. Ketika sampai pada tahap akhir inilah seseorang disebut sebagai Insan Kamil.
Insan Kamil dalam Pandangan Para Ulama Tasawuf
Selain Insan Kamil, terdapat berbagai istilah yang digunakan para ulama tasawuf untuk menyebut tingkatan manusia tertinggi tersebut. Di antaranya haqiqat al-haqaiq, al-haq al-makhluq bih, falak al-hayah, asl al-’alam, asl al-jauhar al-fard, al-hayula, al-maddah al-ula, jins al-ajnas, al-haqiqah al-kulliyyah, al-falak al-muhith, al-’aql al-awwal, ruh al-’alam, al-khalifah, dan masih banyak istilah lainnya.
Eksistensi Insan Kamil telah diisyaratkan oleh Imam Ali Kw. dalam syairnya:
دَواؤُكَ فيكَ وَما تُبصِرُ وَدَاؤُكَ مِنكَ وَما تَشعُرُ
أَتَزعُمُ أَنَّكَ جُرمٌ صَغيرٌ وَفيكَ اِنطَوى العالَمُ الأَكبَرُ
فَأَنتَ الكِتابُ المُبينُ الَّذي بِأَحرُفِهِ يَظهَرُ المُضَمَرُ
وَما حاجَةٌ لَكَ مِن خارِجٍ وَفِكرُكَ فيكَ وَما تُصدِرُ
“Obatmu ada padamu, tetapi engkau tidak melihatnya.
Penyakitmu berasal darimu, tetapi engkau tidak menyadarinya.
Apakah engkau mengira bahwa dirimu hanyalah wadah yang kecil, padahal dalam dirimu terhimpun alam yang besar.
Engkaulah kitab yang nyata, yang dengan huruf-hurufnya tampak segala yang tersembunyi.
Engkau tidak membutuhkan sesuatu dari luar dirimu, sebab pikiranmu dan segala yang lahir darinya ada pada dirimu sendiri.”
Dalam syair ini, Imam Ali Kw. menggambarkan manusia yang meskipun secara fisik tampak kecil, namun memuat semesta yang besar. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia menghimpun berbagai hakikat alam. Manusia juga digambarkan sebagai kitab yang jelas (al-kitab al-mubin) yang menampakkan segala yang tersembunyi, sebagai isyarat bahwa manusia menghimpun berbagai hakikat makna.
Sementara itu, Insan Kamil menurut Ibn al-’Arabi adalah gambaran atau citra ketuhanan (surah ilahiyah) dan merupakan puncak dari tujuan yang hendak dicapai (ghayat al-ghayat). Insan Kamil adalah manusia yang sebenar-benarnya. Adapun manusia selainnya disebut manusia hanya karena adanya keserupaan. Manusia seperti ini diistilahkan oleh Ibn al-’Arabi sebagai insan hayawani.
Adapun Syekh Abdul Qadir al-Jilani membagi manusia menjadi dua golongan, yaitu jasmani yang merupakan manusia umum (insan ’am) dan ruhani yang merupakan manusia khusus (insan khas). Pembagian lain yang biasa digunakan para ulama tasawuf adalah insan manqul dan insan mahsus. Ada pula yang menggunakan istilah insan rabbani dan insan hayawani.
Hakikat dan Syarat Insan Kamil Menurut Syekh Yusuf al-Makassari
Dalam pandangan Syekh Yusuf al-Makassari sebagaimana termaktub dalam risalah Tajul Asrar, Insan Kamil adalah khalifah Allah di muka bumi karena ia telah berakhlak dengan akhlak Allah Swt. dan memiliki sebagian sifat-sifat yang Allah tampakkan pada hamba-Nya. Sebagai khalifah Allah, ia menjadi citra Allah Swt.
Sufi merupakan citra Allah Swt. Sebagian ulama berpendapat bahwa Sufi adalah salah satu nama yang digunakan di antara nama-nama Allah Swt., sebagaimana kata Wali yang digunakan sebagai salah satu nama Allah Swt. dan juga digunakan untuk menamai hamba-Nya.
Namun, untuk menjadi Insan Kamil, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang hamba sehingga layak mencapai tingkatan tersebut. Syekh Yusuf al-Makassari -Qaddasallahu Sirrahu- dalam risalah Zubdatul Asrar menguraikan persyaratan tersebut sebagai berikut:
1. Meluruskan akidah berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah.
2. Memperbanyak zikir, baik zikir lisan, zikir hati, maupun zikir sir.
3. Melakukan muraqabah dengan menyadari sepenuhnya bahwa Allah Swt. senantiasa hadir bersamanya, memandangnya, dan menyaksikannya. Muraqabah ini diistilahkan sebagai muraqabah ihsaniyah dengan dua tingkatannya.
4. Berbaik sangka kepada semua manusia, bahkan kepada orang yang secara lahiriah melakukan pelanggaran, karena ketidaktahuan terhadap keadaan batinnya. Sikap ini akan mengantarkan seseorang untuk berbaik sangka kepada Allah Swt. Salah satu cara mewujudkannya adalah dengan tidak banyak mengeluh dan memprotes berbagai kejadian yang dialami.
5. Berakhlak baik kepada sesama manusia, termasuk kepada mereka yang berbeda agama.
6. Rida dan menerima dengan sepenuh hati seluruh ketetapan Allah Swt., baik qada maupun qadar-Nya.
Apabila seorang hamba telah memenuhi keenam syarat tersebut, melakukannya dengan niat yang ikhlas karena Allah Swt., memperbanyak zikir tanpa lalai, mengikuti Nabi saw. secara sempurna lahir dan batin, serta menyadari bahwa semua itu semata-mata merupakan karunia Allah Swt. dan bukan balasan atas ilmu maupun amalnya, hingga sifat-sifat tersebut melekat dalam dirinya melalui pengalaman hudur (merasakan kehadiran Allah Swt.) dan syuhud (menyaksikan Allah Swt.), maka pada saat itulah ia menjadi wali Allah, seorang hamba yang mengenal Tuhannya (’arif billah), sampai kepada Tuhannya (washil), dan mencapai derajat manusia paripurna (insan kamil).
(Tulisan ketiga dari rangkaian tulisan berseri tentang ajaran Syekh Yusuf al-Makassari menjelang 400 tahun lahirnya pada 3 Juli 2026)
Editor: Afriadi Ramadhan
