Press ESC to close

Ketua ICATT Tegaskan Perbedaan adalah Kekayaan, Bukan Alasan Permusuhan

Makassar (KOMINFO ICATT) — Ketua Umum DPP Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICATT), H. Mallingkai Ilyas menyampaikan pesan kepada 105 Calon Mahasiswa Baru (Camaba) Universitas Al-Azhar tahun ajaran 2026/2027 terkait tantangan perbedaan pandangan dewasa ini, khususnya dalam urusan agama dan persoalan kehidupan pada umumnya.

Hal tersebut disampaikan pada kegiatan “Penguatan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan” sekaligus pelepasan keberangkatan Camaba menuju Negeri Para Nabi di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (15/10).

Mallingkai mengingatkan bahwa menempuh pendidikan di Al-Azhar bukan sekadar soal menguasai kitab kuning. Ada tantangan lain yang menanti: berhadapan dengan tradisi keilmuan yang berbeda, mazhab yang beragam, dan lingkungan sosial yang jauh dari kampung halaman.

“Perbedaan pendapat itu kekayaan khazanah keilmuan. Yang harus dicegah adalah perpecahan dan permusuhan,” katanya.

Ia tidak menampik bahwa di Kairo nanti para mahasiswa akan bertemu dengan berbagai cara berpikir yang mungkin belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Baginya, itu justru kesempatan emas untuk memperluas cakrawala, bukan bahan pertengkaran.

Mallingkai juga menyinggung soal pentingnya kehati-hatian dalam menerima informasi. “Belajarlah dari guru yang jelas sanad keilmuannya. Lakukan tabayyun sebelum menerima atau menyebarkan informasi,” pesannya.

Kegiatan yang digelar DPP ICATT ini memang dirancang sebagai bekal awal sebelum para mahasiswa berangkat ke Mesir. Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, yang turut hadir, menitipkan pesan senada namun dengan penekanan berbeda.

“Ananda berangkat membawa tiga amanah: sebagai duta agama, duta bangsa, dan duta Sulawesi Selatan. Tampilkan Islam yang berilmu, ramah, dan berakhlak, serta jaga nama baik Indonesia di mana pun berada,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan ICATT yang juga Wakil Rektor II UIN Alauddin Makassar, Prof. H. Andi Aderus, menyoroti sisi praktis kehidupan di perantauan. Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan kebiasaan setempat dan membangun relasi lintas budaya sama pentingnya dengan bekal keilmuan.

“Mahasiswa perlu mempersiapkan diri menghadapi lingkungan yang lebih beragam. Kemampuan beradaptasi, memahami budaya setempat, dan menjalin hubungan baik dengan orang lain menjadi bekal penting agar dapat menjalani studi dengan lancar tanpa kehilangan jati diri,” tuturnya.

Dengan pembekalan ini, para calon mahasiswa diharapkan tidak hanya sukses secara akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, kritis, dan tetap berpijak pada nilai keagamaan serta kebangsaan.

Pengalaman di Al-Azhar diharapkan menjadi modal berharga untuk berkontribusi bagi ilmu pengetahuan dan kehidupan keagamaan di Indonesia setelah mereka kembali. (Ryan)