
Oleh: Mallingkai Ilyas (Ketua Umum DPP ICATT / Ketua Komisi Pesantren MUI Sulsel)
Pada 1 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Jenderal Polisi Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si. sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dari Makassar, dari tengah keluarga besar ulama dan pesantren Sulawesi Selatan, kami mengucapkan selamat bertugas. Semoga amanah besar ini senantiasa diberkahi Allah SWT.
Harapan kami lahir dari rekam jejak beliau. Berpengalaman panjang di bidang reserse, beliau pernah menjabat Kapolres Metro Jakarta Pusat, Dirreskrimum Polda Metro Jaya, hingga menduduki posisi strategis di Bareskrim Polri.
Kariernya berlanjut sebagai Wakapolda Metro Jaya, Kapolda Banten, hingga Kepala BNN.
Saat uji kepatuhan di DPR, beliau menegaskan bahwa jabatan Kapolri bukanlah puncak karier, melainkan puncak tanggung jawab.
Pernyataan ini sangat sejalan dengan ajaran pesantren: jabatan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Berangkat dari semangat itu, Kapolri mengusung semangat “Polri Bersama Masyarakat” yang menempatkan publik sebagai pusat pelayanan kepolisian.
Ini adalah penegasan kembali amanat UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri: memelihara keamanan dan ketertiban, menegakkan hukum, serta melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat.
Ketika Polri menyatakan siap mengulurkan tangan kepada masyarakat, kami menyambutnya dengan terbuka: ulama dan pesantren siap berjalan bersama Polri.
Peran Moral Ulama
Sinergi ini penting karena hukum negara memiliki keterbatasan. Indonesia memang negara hukum, dan setiap pelanggaran harus ditindak tegas. Namun, hukum hanya mampu menjangkau perbuatan yang terlihat dan terbukti secara fisik.
Hukum tidak bisa menembus niat buruk yang tersembunyi atau kejujuran seseorang saat tidak ada yang melihat.
Di situlah peran ulama masuk. Sebagai pewaris para nabi, ulama menanamkan keyakinan bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya (QS Az-Zalzalah: 7–8).
Kesadaran iman inilah yang menjadi “polisi” di dalam diri setiap warga. Ketika kesadaran moral masyarakat kuat, tugas aparat di lapangan tentu menjadi jauh lebih ringan.
Kekuatan moral ini berakar kuat di pesantren. Data Kementerian Agama mencatat ada lebih dari 42 ribu pesantren di Indonesia dengan 11 juta santri dan satu juta kiai serta guru. Pesantren hadir hingga ke pelosok desa, melatih disiplin, kemandirian, dan rasa cinta tanah air.
Menjalin kemitraan dengan pesantren hari ini sama artinya dengan menanam investasi keamanan untuk puluhan tahun ke depan.
Menghadapi Narkoba dan Judi Online
Kolaborasi ini sangat relevan untuk menjawab dua tantangan besar bangsa saat ini: maraknya narkoba dan judi online (judol). Secara normatif, keduanya sudah tegas dilarang dalam ajaran Islam (QS Al-Maidah: 90). Dampak kerusakannya pun sangat nyata di tengah masyarakat.
Dalam penanganannya, Polri bertindak tegas menutup jalur peredaran dan menindak para bandar. Sementara itu, ulama dan pesantren bekerja dari sisi pencegahan, yaitu membimbing umat lewat mimbar dakwah dan membina mental generasi muda agar tidak terjerumus.
Penegakan hukum tanpa pembinaan karakter hanya akan memicu pelanggaran baru. Sebaliknya, pembinaan karakter tanpa tegasnya hukum akan membuat kejahatan merasa aman.
Langkah Nyata di Lapangan
Agar tidak sekadar menjadi seremoni, kerja sama ini perlu diwujudkan dalam tindakan nyata:
- Dialog Rutin: Polres dan MUI di setiap daerah dapat menggelar forum komunikasi rutin.
- Kemitraan Komunitas: Petugas Bhabinkamtibmas aktif berkolaborasi dengan pengurus pesantren dan masjid setempat.
- Edukasi Bersama: Menyusun materi dakwah dan sosialisasi mengenai bahaya narkoba, judi online, dan penipuan digital.
- Ruang Kritik Sehat: Membuka saluran komunikasi agar ulama dapat menyampaikan aspirasi dan masukan umat secara langsung kepada Polri.
Sinergi ini sejalan dengan falsafah Bugis-Makassar: sipakatau, sipakalebbi, sipakainge (saling memanusiakan, saling memuliakan, dan saling mengingatkan). Begitu pula ajaran Al-Qur’an untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa (QS Al-Maidah: 2).
Polri telah berkomitmen hadir bersama masyarakat. Kini ulama dan pesantren siap melangkah bersama Polri demi Indonesia yang aman, adil, dan beradab.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor: Afriadi Ramadhan
