Press ESC to close

“Pesantren Bukan Bengkel!” Ketua Umum ICATT Tekankan Sinergi Orang Tua dan Pengasuh

Makassar (KOMINFO ICATT) — Dalam obrolan santai bersama pengasuh dan pembina Pondok Pesantren Multidimensi Al-Fakhriyah Makassar, Ketua Umum DPP ICATT Mallingkai Ilyas menegaskan bahwa perubahan perilaku santri membutuhkan kemauan dari anak, dukungan orang tua, serta sistem pembinaan yang konsisten. “Pesantren bukan bengkel,” tegas Mallingkai.

Diskusi yang berlangsung di Red Corner Makassar, Minggu (11/10/) tersebut membahas dinamika pengelolaan pesantren, pembinaan dan perlindungan santri, hingga penguatan citra positif pesantren di ruang digital.

“Orang tua tidak boleh beranggapan bahwa ketika anak masuk pesantren, otomatis semua persoalannya selesai dan anak langsung menjadi baik. Perubahan membutuhkan kemauan dari anak, dukungan orang tua, dan pola pembinaan yang konsisten dari pesantren,” ujar Mallingkai.

Menurutnya, pesantren telah berperan panjang dalam pendidikan bangsa, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Namun, tradisi dan reputasi historis harus diikuti pembenahan tata kelola, pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan santri yang terintegrasi.

Ia menilai, seluruh ekosistem pesantren perlu memperkuat sinergi agar proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab.

“Pengelolaan, pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan santri tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Semuanya membutuhkan sistem pembinaan yang terpadu,” katanya.

Mallingkai juga menyoroti lemahnya pemanfaatan ruang digital oleh sebagian pesantren untuk memperkenalkan kehidupan pendidikan mereka kepada masyarakat. Ia mendorong setiap pesantren memiliki website dan media sosial yang dikelola secara aktif dan profesional.

“Pesantren jangan hanya muncul di ruang digital ketika ada persoalan (masalah). Aktivitas positif santri juga harus ditampilkan agar masyarakat melihat kehidupan pesantren secara utuh,” tegasnya.

Menurut Mallingkai, konten positif tidak harus berupa kegiatan besar atau seremoni. Aktivitas sederhana seperti santri membersihkan lingkungan, mengantre di dapur, bangun pagi, berolahraga, belajar bersama, dan beribadah berjamaah merupakan potret pendidikan karakter yang layak diketahui publik.

Ia menegaskan, publikasi digital bukan sekadar promosi, melainkan sarana membangun transparansi dan kepercayaan masyarakat. Pengelolaannya tetap harus memperhatikan etika, privasi, martabat, dan perlindungan anak.

Mallingkai berharap pesantren mampu berbenah tanpa kehilangan jati diri dan tradisi keilmuannya. Pembinaan yang terukur, keterlibatan orang tua, perlindungan santri, dan komunikasi publik yang positif menjadi bagian penting untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pesantren. (Ryan)