Press ESC to close

Ketum DPP ICATT Hadiri Dialog Kebangsaan: Moderasi Beragama Harus Menjadi Gerakan Bersama

Makassar (KOMINFO ICATT) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) Mallingkai Ilyas, menghadiri Dialog Kebangsaan Seri 2 dengan tema “Moderasi Beragama, Menguatkan Integritas Diri Kepahlawanan Menuju Indonesia Sejahtera”, yang dilaksanakan oleh Yayasan Al Markaz Al Islami Jenderal M. Jusuf Makassar, Sabtu (15/8).

Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Al Markaz Al Islami Makassar ini dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari pimpinan dan aktivis organisasi kemasyarakatan keagamaan, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, hingga mahasiswa.

Forum tersebut menjadi ruang perjumpaan lintas elemen untuk membicarakan berbagai persoalan kebangsaan, khususnya penguatan moderasi beragama, komitmen kebangsaan, toleransi, persatuan, serta upaya bersama membangun Indonesia yang damai dan sejahtera.

Dalam sesi dialog, moderator memberikan ruang kepada para peserta untuk menyampaikan pandangan, gagasan, dan refleksi mereka terkait berbagai isu kebangsaan, termasuk moderasi beragama, penguatan nilai-nilai NKRI, implementasi Pancasila, dan tantangan kehidupan berbangsa.

Setelah mendengar pandangan peserta, para narasumber kemudian memberikan tanggapan dan memperkaya diskusi melalui perspektif masing-masing. Pola tersebut membuat dialog berlangsung interaktif dan memberikan ruang partisipasi yang luas kepada peserta.

Dalam dialog tersebut, Mallingkai Ilyas menegaskan bahwa moderasi beragama tidak boleh berhenti sebagai wacana, isu, maupun narasi yang hanya dibicarakan dalam ruang-ruang seminar.

“Moderasi beragama jangan dipahami sebagai wacana, isu, dan narasi saja. Moderasi beragama adalah gerakan bersama dalam membangun negeri dan merawat kebinekaan,” tegasnya.

Menurutnya, empat indikator utama moderasi beragama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal, harus dipahami secara utuh dan diterjemahkan ke dalam kehidupan nyata.

“Indikator-indikator moderasi beragama harus dipahami dengan baik. Yang paling penting adalah bagaimana praktik dan implementasinya benar-benar terwujud dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” jelasnya.

Mallingkai menilai bahwa moderasi beragama akan memiliki makna yang lebih kuat ketika diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Sikap menghargai perbedaan, menolak kekerasan, menjaga persatuan, serta membangun hubungan sosial yang inklusif harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Selain itu, Mallingkai juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Dialog Kebangsaan Seri 2. Menurutnya, berbagai problematika kebangsaan harus terus dibicarakan secara terbuka agar dapat ditemukan solusi terbaik secara bersama-sama.

“Kami bersyukur dengan kegiatan hari ini, Dialog Kebangsaan, karena problematika kebangsaan ini harus terus didialogkan dan dicarikan solusi terbaik dalam membangun negara. Setiap warga negara memiliki kewajiban yang sama dalam membangun negeri,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pembangunan Indonesia tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Seluruh elemen masyarakat memiliki peran dan tanggung jawab sesuai kapasitas masing-masing. Keberagaman Indonesia, lanjutnya, harus ditempatkan sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan.

“Negeri ini adalah milik kita bersama. Karena itu, menjaga persatuan, merawat kebinekaan, membangun toleransi dan menghadirkan kehidupan yang damai merupakan tanggung jawab bersama,” katanya.

Dialog Kebangsaan Seri 2 ini dipandu oleh Prof. Muammar Bakry, Imam Masjid Al Markaz Al Islami Makassar. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Kombes Pol. Anang Triarsono, Direktur Binmas Polda Sulsel Prof. Muh. Asdar, Ketua PERTI Sulsel, Asisten I Bidang Pemerintahan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Dr. Ishaq Iskandar, serta perwakilan tokoh perempuan.

Kehadiran para tokoh tersebut memperlihatkan bahwa isu kebangsaan dan moderasi beragama membutuhkan perspektif yang beragam. Aparat keamanan, pemerintah, tokoh agama, organisasi keagamaan, tokoh perempuan, pemuda, dan mahasiswa memiliki peran strategis dalam menjaga kehidupan kebangsaan.

Bagi Mallingkai, ruang-ruang dialog seperti ini penting untuk terus diperbanyak. Dialog bukan sekadar tempat menyampaikan gagasan, tetapi juga menjadi sarana membangun kesepahaman, memperkuat persaudaraan, dan melahirkan komitmen bersama.

“Moderasi beragama pada akhirnya bukan sekadar tentang bagaimana kita berbeda dengan damai, tetapi bagaimana perbedaan itu menjadi energi bersama untuk membangun Indonesia yang lebih sejahtera,” pungkasnya.

Dialog Kebangsaan Seri 2 di Al Markaz Al Islami Makassar diharapkan semakin memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan, memperkokoh integritas kebangsaan, merawat kebinekaan, dan menjadikan moderasi beragama sebagai gerakan nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (Ryan)