Press ESC to close

Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Kunjungi DPP ICATT, Dalami Peran Cendekiawan Muslim dalam Menjaga Peradaban

Makassar (KOMINFO ICATT) – Empat mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Angkatan 2025 Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar melakukan kunjungan akademik ke Kantor Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT), Sabtu (13/6). Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Ketua Umum DPP ICATT Mallingkai Ilyas.

Keempat mahasiswa tersebut adalah Luthafitz, Harun, Haidar Mardana, dan Raikhan. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka pengumpulan data untuk penyusunan makalah mata kuliah Pranata Keagamaan.

Mewakili rombongan, Luthafitz menjelaskan bahwa ICATT dipilih sebagai objek penelitian karena dinilai relevan dengan tema makalah yang sedang mereka susun, yakni “Ulama dan Kesarjanaan Muslim serta Lembaga Pendidikan: Pranata Keagamaan Penjaga Intelektual, Ilmu, dan Peradaban.”

“Kami memilih ICATT sebagai objek penelitian karena lembaga ini sangat sesuai dengan judul makalah kami. Selain itu, kami melihat ICATT memiliki berbagai program yang berdampak pada masyarakat dalam peningkatan literasi keagamaan serta memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Dalam sesi dialog, para mahasiswa mengajukan sejumlah pertanyaan terkait sejarah berdirinya ICATT, visi dan misi organisasi, program strategis di bidang pendidikan dan dakwah, peran ICATT dalam membangun kehidupan keumatan dan kebangsaan, serta dampak program-program ICATT terhadap masyarakat.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Ketua Umum DPP ICATT Mallingkai Ilyas, menjelaskan bahwa ICATT memiliki sejarah panjang dalam perjalanan organisasi alumni Timur Tengah di Indonesia.

“ICATT lahir pada tanggal 15 Juli 1989 sehingga saat ini telah berkiprah selama kurang lebih 37 tahun. Dalam perjalanannya, organisasi ini beberapa kali mengalami transformasi, mulai dari Ikatan Alumni Timur Tengah (IATT), Persatuan Alumni Timur Tengah (PAAT), Ikatan Keluarga Alumni Timur Tengah (IKATT), hingga pada tahun 2011 resmi menjadi Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICATT),” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa perjalanan dan perkembangan organisasi dapat dipelajari lebih lanjut melalui website resmi ICATT.

Mallingkai juga memaparkan sejumlah program strategis yang dijalankan ICATT, antara lain kuliah umum, penerbitan ICATT Journal of Islamic Studies (JIIS), bedah tesis dan disertasi, pelatihan pengelolaan jurnal, pengembangan lembaga bahasa dan penerjemah, lembaga dakwah, serta bimbingan bagi calon mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke Mesir.

Selain itu, ICATT juga tengah menggagas pendirian pesantren mahasiswa yang berfokus pada penguatan keilmuan Islam dan peningkatan keterampilan praktis.

“Kami sedang memikirkan pendirian pesantren mahasiswa bagi mereka yang ingin memperdalam keilmuan Islam sekaligus meningkatkan keterampilan. Programnya meliputi tahsinul qiraat, baca kitab, pendalaman fikih, public speaking, dan kursus bahasa,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pada 21 Juni 2026 mendatang, ICATT akan menggelar Seminar Internasional dengan menghadirkan narasumber dari Turki dan Mesir sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring intelektual dan akademik internasional.

Dalam kesempatan tersebut, Mallingkai menegaskan bahwa salah satu peran utama ICATT adalah menjadi wadah yang memfasilitasi dan mendistribusikan potensi para anggotanya agar dapat memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

“ICATT bagi saya adalah fasilitator dalam mendistribusikan potensi anggota. Misalnya, anggota ICATT yang memiliki kemampuan menulis karya ilmiah, kami memfasilitasinya melalui penerbitan ICATT Journal of Islamic Studies (JIIS). Alhamdulillah, tahun ini jurnal tersebut telah menerbitkan edisi perdananya,” ujarnya.

Menurutnya, ICATT juga menyediakan ruang ekspresi intelektual melalui website resmi organisasi yang dapat dimanfaatkan anggota untuk menulis opini, gagasan, maupun kolom terkait berbagai fenomena sosial yang membutuhkan perspektif dan pemikiran cendekiawan Muslim.

“Kami juga memiliki website yang menjadi ruang bagi anggota ICATT untuk menyampaikan pemikiran dan gagasannya. Selain itu, terdapat program ICATT Menjawab yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkonsultasi terkait persoalan keislaman. Kami juga terus mengembangkan dakwah Islam melalui media sosial, membuat infografis dan flyer edukatif yang merespons berbagai fenomena sosial. Pelan-pelan kami bekerja dan berharap dapat terus memberikan kontribusi positif bagi umat dan bangsa,” jelasnya.

Mallingkai menambahkan bahwa keberadaan anggota ICATT selama ini telah mendapatkan pengakuan dan kepercayaan masyarakat di berbagai bidang. Namun demikian, ia menilai bahwa penguatan kelembagaan tetap menjadi agenda penting organisasi ke depan.

“Kalau secara personal, alhamdulillah anggota ICATT sudah banyak berkontribusi dan mendapatkan pengakuan di masyarakat. Istilah saya, ICATT itu tidak ke mana-mana, tetapi ada di mana-mana. Anggota kita tersebar dan berkiprah di berbagai sektor. Namun, yang ingin saya bangun adalah kekuatan secara kelembagaan sehingga ICATT semakin eksis dan diakui sebagai salah satu organisasi intelektual Islam yang besar di negeri ini,” katanya.

Terkait dampak program terhadap masyarakat, Mallingkai menjelaskan bahwa ICATT telah melaksanakan berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan edukatif yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

Beberapa program tersebut antara lain kegiatan Al-Azhar Berbagi dalam rangka memperingati Milad Universitas Al-Azhar, pembagian daging kurban pada Hari Raya Iduladha, tabligh akbar yang menghadirkan Ustaz Abdul Somad, program peningkatan literasi keagamaan, serta pelatihan peningkatan kompetensi dai.

“Banyak persoalan keumatan yang harus disikapi dengan bijak, tentunya dengan kembali kepada ajaran agama masing-masing. Fenomena yang terjadi di bangsa ini tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai agama. Saya meyakini bahwa apabila setiap agama mampu menginternalisasikan ajarannya dengan baik kepada para pemeluknya, maka berbagai persoalan sosial seperti kriminalitas dan penyimpangan dapat diminimalisasi,” ungkapnya.

Menurut Mallingkai, tugas utama para anggota ICATT adalah menghadirkan pemahaman keagamaan yang benar, moderat, dan mencerahkan bagi masyarakat.

“Agama adalah rahmatan lil ‘alamin. Agama tidak boleh dijadikan alat untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. Jangan sampai agama dijual untuk kepentingan politik, kepentingan bisnis, atau menggunakan label syariah padahal praktiknya tidak syariah. Karena itu, ICATT memiliki kepentingan besar dalam melakukan edukasi kepada masyarakat agar dapat memahami agama dengan baik, benar, dan membawa kemaslahatan bagi semua,” tegasnya.

Sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap semangat akademik para mahasiswa, pada akhir kunjungan DPP ICATT menyerahkan dua buku karya anggota ICATT, yaitu “Jihad dalam Islam: Kedamaian atau Kekerasan?” dan “Hakikat Kebahagiaan.”

Kunjungan akademik tersebut diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa mengenai peran lembaga keagamaan dan cendekiawan Muslim dalam menjaga tradisi intelektual, pengembangan ilmu pengetahuan, serta kontribusi terhadap pembangunan peradaban dan kehidupan berbangsa.

Selain menjadi sarana pengumpulan data akademik, pertemuan ini juga menjadi ruang dialog antara generasi muda kampus dan kalangan cendekiawan Muslim untuk memperkuat tradisi keilmuan, dakwah, dan pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara. (Fakhrur)