
Oleh: Dr. Syahrir Nuhun, Lc., M.Th.I (Khalifah Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassari dan Dewan Pakar ICATT)
Tajalli merupakan salah satu konsep yang sangat penting dalam tasawuf. Tajalli berasal dari kata “jalla” yang berarti “menampakkan” atau “memperlihatkan”. Kata tajalli mengandung makna menampakkan sesuatu dengan cara menghilangkan faktor-faktor penghalang yang menyebabkan sesuatu itu tidak tampak. Tajalli akan menghapus dan mempertahankan, meniadakan dan sekaligus mewujudkan.
Ayat al-Qur’an yang menyebutkan derivasi kata tajalli terdapat dalam QS al-A’raf ayat 143:
“… فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّه لِلْجَبَلِ جَعَلَه دَكًّا …”
“Maka ketika Tuhannya ber-tajalli kepada gunung, Dia menjadikannya hancur luluh.”
Ayat ini menjelaskan bahwa ketika Allah Swt. ber-tajalli kepada gunung, maka Dia melenyapkan sifat gunungnya dan mempertahankannya sebagai tanah.
Dalam konteks tasawuf, tajalli berarti penampakan atau manifestasi Allah Swt. kepada hamba-Nya. Melalui tajalli itulah seorang hamba dapat merasakan kehadiran Allah Swt. serta memandang keindahan dan keagungan-Nya. Ketika Allah Swt. ber-tajalli kepada manusia, maka hilanglah sifat kemanusiaannya dan yang tersisa adalah sifat ketuhanan.
Tajalli merupakan anugerah dari perjalanan spiritual setelah seorang hamba melewati fase takhalli (penyucian diri dari sifat-sifat tercela) dan tahalli (menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji).
Macam-macam Tajalli dan Cara Meraihnya
Ada beberapa macam tajalli yang diuraikan oleh para ulama tasawuf sebagai berikut:
1. Tajalli Zat, yaitu penampakan Allah Swt. yang tidak dapat dijangkau oleh akal atau pikiran;
2. Tajalli Sifat, yaitu penampakan Allah Swt. melalui sifat-sifat-Nya, seperti kasih sayang, pengetahuan, dan kebijaksanaan;
3. Tajalli Af’al, yaitu penampakan Allah Swt. melalui perbuatan-Nya, seperti penciptaan alam semesta.
Tajalli dapat diperoleh oleh seorang hamba melalui pengalaman spiritual seperti zikir, doa, shalat, dan ibadah lainnya. Untuk mencapai tajalli, seorang hamba harus memenuhi beberapa syarat tertentu, seperti memiliki iman yang kuat, melakukan amal saleh, dan memiliki hati yang bersih.
Hasil dari tajalli adalah peningkatan kesadaran spiritual, ketenangan hati, dan kebahagiaan yang tidak dapat dijangkau oleh dunia.
Tingkatan Tajalli Menurut Syekh Yusuf al-Makassari
Ketika membahas tentang tajalli dalam risalah “Zubdatul Asrar” Syekh Yusuf al-Makassari –Qaddasallahu Sirrahu– menggunakan tiga istilah yang menunjukkan tingkatan tajalli. Ketiga tingkatan tajalli tersebut adalah:
1. Tajalliy Ijad wal Khalqi ‘Umuman
Tajalliy ijad wal khalqi ‘umuman (tajalli mengadakan dan menciptakan secara umum) adalah kesadaran seorang hamba, secara ilmu dan kasyaf, bahwa tidak ada wujud secara hakikat kecuali wujud Allah Swt. Sekiranya Allah Swt. tidak menampakkan sifat-Nya, maka tidak akan pernah ada wujud selain wujud diri-Nya.
Oleh karena itu, para pengamal tasawuf berkata bahwa kesempurnaan ibadah seorang hamba adalah ketika ia mengetahui dan menyadari sepenuhnya bahwa Yang Disembah (al-Ma’bud), yaitu Allah Swt., bermanifestasi dan tampak pada yang menyembah (al-‘Abid), yaitu hamba.
Jika seorang hamba belum menyadari hal tersebut, maka ia belum menjadi penyembah yang sesungguhnya karena ia telah masuk ke dalam syirik yang tersembunyi. Betapa tidak, sesungguhnya Allah Swt. adalah ‘Abid dan Ma’bud; Allah Swt. adalah ‘Abid karena segala sesuatu berasal dari-Nya dan Dia sekaligus Ma’bud karena segala urusan akan kembali kepada-Nya.
Dengan demikian, ketika seorang hamba memandang kepada apa pun juga, maka ia akan menemukan al-Haqq tampak, ta’ayun, dan ber-tajalli kepadanya, untuknya, dan di dalamnya.
Allah Swt. berfirman dalam QS al-Baqarah (2): 115:
“… فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِ …”
“Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah.”
2. Tajalli Khususi
Tajalli khususi tercermin pada ungkapan berikut:
“Manusia adalah rahasia Allah Swt. dan Allah Swt. adalah rahasianya.”
Makna ungkapan tersebut adalah ketika seorang hamba senantiasa mengingat Allah Swt. dan tidak pernah lalai dari-Nya sekejap mata pun, dalam semua urusan dan keadaannya.
Semuanya berasal dari Allah Swt., menuju kepada Allah Swt., atas dasar Allah Swt., di dalam Allah Swt., bersama Allah Swt., untuk Allah Swt., dengan Allah Swt., dan di sisi Allah Swt.
Ketika seorang hamba berada dalam keadaan tersebut, maka Allah Swt. akan senantiasa berada di dalam hatinya dan Allah Swt. menjadi rahasia baginya.
Pada sisi lain, Allah Swt. akan memberikan anugerah yang bersifat khusus kepada hamba-Nya tersebut dan memakaikan kepadanya sifat-sifat-Nya. Inilah yang dinamakan dengan tajalli khususi. Pada saat itulah, hamba tersebut kemudian menjadi rahasia Allah Swt.
Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Allah Swt. berfirman:
“… Maka apabila Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dengannya dia mendengar. Akulah penglihatannya yang dengannya dia melihat. Akulah tangannya yang dengannya dia memegang. Akulah kakinya yang dengannya dia berjalan …”
3. Tajalli ‘Aini
Syekh Yusuf al-Makassari –Qaddasallahu Sirrahu– memberikan contoh tentang tajalli ‘aini melalui peristiwa baiat.
Ketika para sahabat membaiat Rasulullah Saw., pada hakikatnya yang dibaiat adalah Allah Swt. karena pada saat itu Allah Swt. ber-tajalli kepada Nabi Saw., sehingga antara yang ber-tajalli (Mutajalli) dengan Nabi Saw. yang menjadi tempat tajalli (Mutajalli lahu) tidak dapat dipisahkan.
Allah Swt. berfirman dalam QS al-Fath (48): 10:
“اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَۗ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْۚ”
“Sesungguhnya orang-orang yang membaiatmu, sebenarnya mereka berbaiat kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka.”
Dalam tarekat, baiat merupakan peristiwa yang sakral. Ketika seorang murid berbaiat kepada mursyid, maka pada hakikatnya ia berbaiat kepada Allah Swt. Maknanya, baiat merupakan pintu gerbang penyerahan diri seorang murid kepada mursyid untuk mendapatkan bimbingan dan tuntunan dalam menempuh perjalanan menuju Allah Swt.
Satu hal yang sangat ditekankan oleh Syekh Yusuf al-Makassari adalah bahwa tajalli ‘aini bukan berarti meniscayakan adanya penyatuan antara hamba dengan Tuhannya. Penyatuan itu tidak mungkin terjadi, karena bagaimanapun juga Tuhan tetaplah Tuhan meskipun Dia ber-tajalli, dan hamba tetaplah hamba meskipun ia menjalani pendakian spiritual. Hal ini sangat penting dipahami sehingga tidak ada mursyid yang disucikan dan dipertuhankan.
Syekh Sayyid Abdurrahim Assegaf Puang Makka, mursyid Tarekat Khalwatiyah, menyampaikan secara lisan kepada penulis sebuah perumpamaan tentang peranan seorang mursyid dalam perjalanan spiritual murid.
Ketika ada seseorang yang hendak melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, maka mursyid mengantarkannya ke bandara, mengantarkannya melakukan proses check-in di konter, mengantarkannya ke gate, bahkan sampai ke pintu pesawat. Akan tetapi, ketika murid sudah berada di dalam pesawat, maka murid akan melanjutkan perjalanan tersebut tanpa ditemani lagi secara fisik oleh mursyid-nya.
Begitulah seorang murid ketika hendak mengadakan perjumpaan dengan Tuhannya di dalam shalat. Mursyid akan mengantarkannya sampai di pintu gerbang shalat, yaitu takbiratul ihram. Setelah itu, murid akan melanjutkan perjalanannya di dalam shalat tanpa ditemani oleh mursyid-nya.
(Tulisan berseri tentang ajaran Syekh Yusuf al-Makassari menjelang 400 tahun lahirnya pada 3 Juli 2026)
Editor: Afriadi Ramadhan
