
Oleh: Ihsan Zainuddin, Lc., Dipl., M.Hum (Ketua I ICATT dan Pengasuh Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash Lampoko Sulawesi Barat)
Air selalu menyesuaikan diri dengan wadah yang ditempatinya. Ia tidak kehilangan hakikatnya meskipun bentuknya berubah. Maka belajarlah untuk beradaptasi dengan lingkungan dan keadaan yang terus berganti, tanpa kehilangan jati dirimu sebagai seorang santri. Di mana pun engkau berada, nilai-nilai yang ditanamkan pesantren hendaknya tetap hidup dalam dirimu.
Air selalu mengalir ke tempat yang rendah. Ia tidak mencari tempat yang tinggi untuk menunjukkan kelebihannya. Karena itu, jadilah pribadi yang tawadhu. Jangan pernah sombong karena ilmu, jabatan, kekayaan, ataupun kedudukan. Semakin tinggi ilmumu, semakin rendah hatimu.
Air tampak lembut, tetapi mampu mengikis batu yang keras dan membentuk bentang alam yang megah. Dari air kita belajar bahwa kelembutan bukanlah kelemahan. Justru kelembutan yang disertai keteguhan sering kali lebih kuat daripada kekerasan.
Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan suara yang tinggi dan sikap yang keras. Kasih sayang, kesabaran, dan kelembutan sering menjadi jalan yang paling efektif untuk mengubah keadaan.
Air yang jernih memantulkan bayangan dengan sempurna. Demikian pula hati dan pikiran yang tenang akan lebih mudah melihat kebenaran. Karena itu, ketika menghadapi masalah, jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Hadapilah setiap persoalan dengan kepala dingin, hati yang lapang, dan pikiran yang jernih.
Air adalah sumber kehidupan. Allah Swt berfirman:
“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa air adalah simbol kehidupan, keberkahan, dan karunia Allah yang sangat besar. Tidak ada kehidupan tanpa air, sebagaimana tidak ada keberkahan tanpa kedekatan kepada Sang Pencipta.
Maka, anakku santri, belajarlah dari air.
Ketika engkau hendak meminumnya, bacalah basmalah. Syukurilah nikmat yang sering kali dianggap biasa, padahal tanpanya manusia tidak akan mampu bertahan hidup.
Imam Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi pernah mengajarkan sebuah doa yang sarat makna. Beliau menganjurkan agar saat meminum air, seseorang memohon kepada Allah agar air yang diminumnya menjadi saksi kebaikan dan penjaga dirinya dari kemaksiatan. Seakan-akan ia berdoa:
“Ya Allah, dengan nama-Mu aku meminum air ini. Jadikanlah air yang masuk ke dalam tubuhku sebagai penjaga diriku dari dosa dan maksiat. Jangan biarkan aku menggunakan nikmat yang Engkau berikan untuk bermaksiat kepada-Mu. Peliharalah aku dalam ketaatan hingga aku kembali meneguk air yang berikutnya.“
Betapa indahnya doa itu. Sebab setiap tegukan air bukan sekadar menghilangkan dahaga, tetapi juga menjadi pengingat bahwa hidup ini berada dalam penjagaan Allah, dan setiap nikmat yang kita terima seharusnya semakin mendekatkan kita kepada-Nya.
Editor: Ryan Saputra
