
Oleh: Ihsan Zainuddin, Lc., Dipl., M.Hum. (Ketua I ICATT dan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash Lampoko)
Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICATT) menggelar rangkaian kegiatan di Hotel Vasaka Makassar yang terdiri atas Dialog Interaktif, Pelantikan Pengurus DPP ICATT, dan Rapat Kerja. Kegiatan yang berlangsung pada hari libur nasional, 14 Mei 2026, ini terbilang sukses. Salah satu indikatornya ialah jumlah peserta yang hadir melampaui target. Ruangan berkapasitas 150–200 orang tampak penuh oleh peserta yang antusias mengikuti seluruh rangkaian acara.
Dialog interaktif tersebut diadakan untuk membangkitkan kembali kesadaran intelektual para anggota ICATT sekaligus mempertegas visi dan misi organisasi. Fokus utamanya ialah bagaimana kehadiran ICATT dapat lebih maksimal di tengah masyarakat. Harapan itu tercermin dalam tema dialog, yaitu “Transformasi ICATT Menuju Organisasi Intelektual yang Responsif terhadap Tantangan Zaman.”
Tidak membutuhkan waktu lama bagi panitia untuk menentukan narasumber. ICATT sendiri memiliki banyak tokoh dan pakar yang bergelar profesor maupun praktisi di berbagai bidang. Karena itu, panitia menghadirkan tiga tokoh utama, yaitu Dr. H. Mulawarman Hannase (Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan Badan Pengelola Masjid Istiqlal Jakarta), Prof. Dr. Abd. Rauf Amin (Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar), serta Dr. Najib Tabhan Syamsurrijal (Dewan Pakar ICATT/Pengusaha).
Meski dibatasi waktu, ketiga narasumber berhasil memaparkan gagasan-gagasan pokok mereka dengan baik, sesekali diselingi gurauan yang mencairkan suasana. Ketiganya sepakat bahwa ICATT tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga harus menjadi organisasi yang mampu berkontribusi aktif di tengah masyarakat dan tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam pengantarnya, Dr. Mulawarman yang diminta mengulas tema adaptasi organisasi terhadap perkembangan teknologi dan isu global mengatakan bahwa modal intelektual saja tidak cukup. Tokoh yang juga dosen di Universitas Indonesia itu menekankan pentingnya jaringan global bagi insan cendekia ICATT.
“Ada banyak peluang strategis jika kita berjejaring secara global,” pungkasnya.
Karena itu, ICATT diharapkan bergerak dinamis, kuat secara intelektual, sekaligus mampu mengembangkan diri melalui interaksi global.
Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Abd. Rauf Amin yang membawakan tema penguatan kapasitas intelektual dan kaderisasi ICATT menyampaikan kritik secara eksplisit terhadap anggota ICATT yang dinilainya lebih banyak berdakwah, tetapi belum cukup aktif menulis. Menurut pakar ushul fiqh tersebut, ICATT seharusnya mampu menjadi rujukan pemikiran Islam. Ia mendorong agar anggota ICATT lebih produktif menulis sebagai respons terhadap perkembangan dan dinamika masyarakat masa kini.
“Apakah kita sekarang bisa hadir menjawab persoalan masyarakat kita?” katanya.
Menurutnya, para ulama terdahulu lahir dengan gagasan-gagasan yang mampu menjawab problematika sosial pada zamannya dan tetap relevan hingga hari ini.
Sosok intelektual yang menghabiskan 16 tahun menimba ilmu di Kairo ini menggambarkan bahwa ‘ICATT ibarat raksasa yang sedang tidur’. Ia menegaskan masih banyak potensi anggota ICATT yang belum dimaksimalkan. Kaum intelektual ICATT, menurutnya, perlu seimbang dalam menggunakan empat instrumen vital: wahyu, logika, realitas, dan konteks sosial. Dengan demikian, keseimbangan antara teks dan konteks dapat terwujud dalam menjawab persoalan masyarakat.
Adapun narasumber ketiga, Dr. Najib Tabhan, yang hadir memberikan pencerahan terkait peran dan kontribusi sosial ICATT, menyebut model pergerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir dapat menjadi contoh dalam beberapa aspek. Meski pada akhirnya organisasi tersebut dinilai keluar dari rel moderasi (washatiyah), menurutnya sistem organisasi, kaderisasi, dan kontribusi di berbagai bidang tetap dapat dijadikan rujukan.
Dari sisi intelektual misalnya, Ikhwanul Muslimin bukan organisasi yang secara khusus berbasis intelektual, tetapi mampu melahirkan banyak kaum intelektual. Selain itu, organisasi tersebut berkembang dengan gerakan ekonomi dan politik yang cukup diperhitungkan. Kehadirannya dalam bidang sosial dan filantropi juga sangat terasa di tengah masyarakat Mesir pada masa itu.
“Ikhwanul Muslimin hadir untuk menjawab persoalan masyarakatnya pada saat itu,” terangnya.
Ia menjelaskan bahwa organisasi tersebut lahir dalam konteks Mesir yang masih berada dalam era penjajahan dan berupaya meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat yang saat itu sangat tertinggal.
Dr. Najib juga menekankan bahwa ICATT harus hadir di semua aspek kehidupan agar potensi anggotanya yang beragam dapat terdistribusi dengan baik. Menurutnya, ICATT semestinya menghadirkan Islam sebagai solusi, sebagaimana slogan yang pernah diusung Ikhwanul Muslimin. Karena itu, selain bergerak di bidang pendidikan dan intelektual, ICATT juga harus memainkan peran penting di bidang ekonomi, sosial, dan kemanusiaan.
Diskusi semakin menarik dengan berbagai respons dan pertanyaan dari peserta. Salah satunya datang dari Dr. Andi Abdul Hamzah, Ketua Prodi Dirasah Islamiyah UIN Alauddin Makassar.
“Apa peran baru atau kekhasan yang ditawarkan ICATT di tengah berbagai lembaga dan ormas yang ada saat ini?” tanyanya.
Pertanyaan tersebut ditanggapi dengan baik oleh para narasumber. Dr. Najib menjelaskan bahwa kesamaan produk atau gerakan bukanlah persoalan utama.
“Tidak menjadi soal jika produknya sama. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menguatkan peran dengan mempertahankan kekhasan ICATT yang washatiyah(moderat), bercermin dari ulama-ulama kita di Al-Azhar,” jawabnya.
Sementara itu, Dr. Mulawarman menambahkan bahwa ICATT dapat menghadirkan penguatan konsep maqasid based sebagai dasar konstruksi fatwa maupun pijakan pengambilan hukum dalam menjawab persoalan kemasyarakatan.
Menurutnya, konsep tersebut perlu dikembangkan lebih jauh oleh ICATT, baik dalam kerangka teoritis maupun aplikatif.
Tentu, sebagaimana forum-forum diskusi lainnya, sesi dialog ini juga dibatasi oleh waktu. Namun setidaknya, ketiga narasumber berhasil memberikan motivasi sekaligus pencerahan dalam rangka pengembangan diri dan institusi. Sebagaimana disampaikan Dr. Mulawarman, ICATT hadir untuk menguatkan pilar-pilar peradaban bagi agama dan bangsa yang dicintai bersama.
Selain itu, kegiatan ini juga ditandai dengan kehadiran sejumlah tokoh lintas agama sebagai bentuk keterbukaan dialog dan semangat kebangsaan yang ingin dibangun ICATT.
Editor: Ryan Saputra
