
Makassar (KOMINFO ICATT) — Upaya memperluas akses pendidikan global bagi generasi muda kembali diperkuat melalui pertemuan antara Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Rabu (6/5). Pertemuan ini menjadi silaturahmi kelembagaan sekaligus ruang strategis untuk merancang kolaborasi konkret di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Dalam forum tersebut, Ketua Umum ICATT H. Mallingkai Ilyas, menyoroti peran ICATT sebagai jembatan akademik yang telah berjalan sejak 2017. Ia menjelaskan bahwa ICATT secara konsisten membuka akses bagi pelajar, khususnya dari pesantren dan madrasah, untuk melanjutkan studi ke Timur Tengah. Menurutnya, langkah ini menjadi investasi jangka panjang dalam mencetak kader ulama dan intelektual Muslim yang berdaya saing global.
“Yang kita bangun bukan hanya jalur keberangkatan, tapi ekosistem pembinaan—dari persiapan bahasa hingga pendampingan akademik,” ungkapnya.
Dalam audiensi tersebut, Mallingkai hadir didampingi oleh jajaran pengurus, yakni Muhammad Husni Ali Hasan, Lc. (Sekretaris I DPP ICATT), Ahmad Faizal Rifai, Lc. (Anggota Bidang Hubungan Masyarakat dan Antar Lembaga), H. Abid Ash-Shiddiqiy, Lc., M.Hum. (Wakil Ketua Bidang Penanggulangan Terorisme, Radikalisme dan Ekstremisme), H. Tarekh Surya Anugrah, Lc. (Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi), serta Muhammad Zati Rifqi, Lc. (Anggota Bidang Hubungan Masyarakat dan Antar Lembaga).

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel H. Ali Yafid, melihat potensi besar dari sinergi ini. Ia menegaskan bahwa tantangan pelayanan keagamaan dan pendidikan hari ini tidak bisa diselesaikan secara sektoral, melainkan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Menurutnya, ICATT memiliki posisi strategis sebagai mitra pemerintah, terutama dalam memperluas cakrawala pendidikan ke tingkat internasional. Ia juga menyoroti pentingnya penguatan kompetensi bahasa asing sebagai pintu masuk utama dalam menghadapi peluang global.
“Kolaborasi seperti ini harus diarahkan pada program nyata, misalnya peningkatan kapasitas bahasa, penguatan madrasah, dan pembukaan akses studi luar negeri yang lebih sistematis,” jelasnya.
Lebih jauh, pertemuan ini juga membuka peluang kerja sama dalam bidang pembinaan pesantren dan peningkatan kualitas layanan keagamaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Audiensi tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk menindaklanjuti pembahasan melalui perumusan program kerja yang terukur dan berkelanjutan. Kedua pihak berharap sinergi ini tidak berhenti pada wacana, tetapi benar-benar menjadi gerakan nyata dalam mendorong lahirnya generasi unggul yang mampu berkontribusi di tingkat nasional maupun global. (Ryan)
