
Oleh: Afriadi Ramadhan, Lc. (Anggota Bidang Komunikasi dan Informasi ICATT)
Hari ini, kebohongan tersebar lebih cepat daripada kebenaran. Hanya sekali tekan, informasi yang tidak jelas asal-usulnya bisa menjangkau ratusan hingga ribuan orang dalam hitungan menit.
Jika dulu kaum Nabi Nuh as., mendapat bencana aliran air yang menenggelami bumi, maka hari ini cobaan umat adalah kebanjiran informasi.
Masalahnya bukan hanya banyaknya hoaks dan disinformasi, tetapi yang lebih parah adalah bagaimana masyarakat mengelola informasi yang diterimanya.
Fenomena ini bukan sekadar teori, tetapi terjadi di sekitar kita. Seharusnya, pidato Jusuf Kalla (JK) tidak perlu menjadi bulan-bulanan warganet jika disimak secara lengkap dengan memahami konteksnya. Akan tetapi, viralnya potongan video itu menjadi cerminan bagi sebagian kita yang masih cepat naik emosi karena termakan efek disinformasi.
Dalam contoh lain, tangkapan layar yang berisi unggahan akun X Donald Trump juga sempat heboh. Bahkan, ada seorang tokoh yang menulis opini tentang itu. Unggahan tersebut berisi klaim bahwa Trump marah dan kecewa terhadap orang Sunni-Indonesia yang tetap membela Syiah-Iran.
Akan tetapi, tangkapan layar itu sudah dikonfirmasi sebagai rekayasa atau hoaks oleh media Antara News. Ya, walaupun Trump memang menyebalkan, kita tetap harus meyakini sesuatu sesuai dengan nafs al-amri (kenyataan).
Dalam konteks yang berkebalikan, berita hoaks juga pernah disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Abi Quraish Shihab pernah menceritakan bahwa ada riwayat yang menyebut Nabi memiliki mata di belakang kepala. Riwayat ini jelas ditetapkan sebagai hadis maudu’ (palsu) oleh para pakar.
Tetapi yang menarik, pembuat informasi palsu ini ternyata menyebarkannya sebagai bentuk kekagumannya kepada Rasulullah Saw tentang bagaimana Rasul bisa mengetahui sesuatu yang terjadi di belakangnya sama persis dengan sesuatu yang terjadi di hadapannya. Karena alasan itulah, sang pembuat hadis palsu tersebut menyebut Nabi punya mata di belakang.
Sebagai utusan Allah Swt., Rasulullah diberi pengetahuan sesuai kehendak-Nya, tidak terbatas ruang dan waktu. Tetapi, apakah secara otomatis kita akan percaya dengan hadis palsu tadi yang bermasalah dari segi matan dan sanad? Intinya, bagaimana agar pengetahuan masyarakat itu sesuai dengan kenyataan.
Untuk mencapai tujuan itu, perlu uluran tangan yang berkapasitas dari kalangan cendekiawan. Cendekiawan sering kali dipahami hanya sebagai orang cerdas, menguasai ilmu, hafal dalil, dan terbiasa dengan diskursus akademik.
Padahal sebenarnya, cendekiawan lebih dari itu. Mereka punya amanah intelektual untuk mengarahkan dan menjaga pemahaman masyarakat terhadap suatu isu.
Ini bukan soal menjadi penguasa kebenaran, tetapi bagaimana memelihara informasi sahih untuk dipegang umat. Cendekiawan—termasuk semua yang berilmu—menjadi elemen penting untuk menahan tersebarnya kezaliman.
Seperti sebuah ungkapan populer yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib kw., “Kezaliman tidak akan tersebar kecuali dengan diamnya orang yang mengetahui kebenaran.”
Berdasarkan fakta lapangan, algoritma menjadi mesin penyebar informasi. Namun sayangnya, algoritma tidak peduli benar atau salah; ia hanya peduli ramai atau tidak.
Sering kali konten yang emosional atau sensasional akan lebih laku di beranda ketimbang uraian ilmiah yang cenderung membosankan. Maka dari itu, cendekiawan tidak bisa lagi berdiri di pinggir. Mereka idealnya berada di tengah masyarakat untuk memberikan bimbingan dan penjelasan.
Pertama, tentang bagaimana menghidupkan makna surah Al-Hujurat ayat 6 tentang pentingnya tabayyun (verifikasi) terhadap setiap informasi. Tidak hanya menyampaikan ayat, tetapi menjadi teladan dalam selalu memeriksa dan tidak mudah percaya.
Lalu, amanah untuk mengedukasi publik; menjelaskan ilmu secara lengkap, berbeda dengan media sosial yang kebanyakan hanya menjelaskan sepotong saja. Amanah ini sekaligus memberi jawaban jika masyarakat bingung atau meluruskan jika ada kesalahpahaman.
Senada dengan isi surah An-Nahl ayat 43, “Tanyakanlah kepada orang berilmu jika engkau tidak mengetahui.” Bukankah lebih baik jika lebih dulu memberi jawaban sebelum orang melempar pertanyaan?
Kembali mengutip kalimat Abi Quraish Shihab, “Kesuksesan seorang yang berdakwah tidak diukur dari berapa banyak gelak tawa atau isak tangis dari jemaah, melainkan berapa banyak pemahaman baru yang diberikan atau kesalahpahaman yang diluruskan.”
Tentu polemik hoaks ini bukan hanya beban bagi cendekiawan semata; masyarakat umum juga punya peran. Minimal untuk tidak langsung menyebarkan informasi sebelum mengetahui kesahihannya.
Sebab jika tidak, maka kita akan termasuk dalam golongan yang dimaksud Nabi dalam hadis riwayat Muslim, “Cukuplah seseorang dianggap pembohong kalau dia menceritakan semua yang ia dengar.”
Pada akhirnya, persoalan hoaks dan disinformasi ini bukan hanya perkara teknologi, tetapi sikap kita terhadap pengetahuan. Para cendekiawan yang menjadi panutan dan teladan dalam hal ini punya tanggung jawab memelihara literasi dan pola pikir masyarakat agar tetap sehat.
Allah sebaik-baik tempat meminta pertolongan.
Editor: Andi Fakhrur Riza
