Press ESC to close

Rahasia Dibalik Melontar Jamarat

Oleh: Prof. Dr. H. Lukman Arake, Lc., MA. (Dewan Pakar ICATT; Rektor IAIN Bone)

Salah satu rangkaian manasik haji adalah melontar jumrah di Mina. Manasik tersebut tentu memiliki makna mendalam yang melampaui aspek fisik. Secara khusus para sufi memandang ritual ini sebagai perjalanan spiritual yang melambangkan perjuangan melawan nafsu ammarah (nafsu yang mendorong pada keburukan) dan pembebasan dari bisikan setan.

Kaum sufistik meyakini bahwa melempar jumrah bukan sekadar tindakan fisik melempar kerikil, melainkan pelemparan simbolis nafsu syahwat dan nafsu ammarah. Setiap jumrah melambangkan rintangan spiritual yang harus diatasi.

Jumrah Aqabah Kubra (besar) melambangkan setan besar yang membisikkan syirik, kekufuran, dan menghalangi manusia dari jalan kebenaran. Melemparnya berarti menolak segala sesuatu yang menjauhkan seorang hamba dari Tuhannya, serta membersihkan hati dari keterikatan pada selain Allah.

Jumrah Wustha (tengah) dan Sugra (kecil) keduanya melambangkan bisikan setan yang lebih kecil dan nafsu yang memerintahkan maksiat serta syahwat duniawi. Melempar keduanya adalah pembersihan diri yang berkelanjutan dari segala sesuatu yang menghambat peningkatan spiritual, serta pembuangan sifat-sifat tercela seperti kesombongan, keangkuhan, dan kedengkian.

Bagi kaum sufi, kerikil yang digunakan untuk melempar jumrah bukanlah sekadar batu biasa. Kerikil itu melambangkan peninggalan segala sesuatu yang bersifat duniawi dan fana. Ketika seorang haji melempar kerikil, ia juga melepaskan semua keterikatan materialnya dan gairahnya terhadap dunia, menegaskan bahwa segala sesuatu selain Allah adalah fana dan akan lenyap.

Tentu saja tindakan tersebut akan memperdalam makna zuhud (hidup sederhana dan tidak terikat dunia) dalam hati seorang sufi, mengingatkannya bahwa tujuan tertinggi hanyalah Allah semata. Selain itu, kaum sufi juga menganggap bahwa melempar jumrah sebagai bagian dari proses penyucian total yang mengembalikan manusia kepada fitrahnya yang murni.

Dengan setiap jumrah yang dilempar, seorang hamba terbebas dari dosa atau kesalahan, atau melepaskan sifat negatif, sehingga menjadi lebih dekat dengan kesempurnaan insani yang dikehendaki Allah baginya. Proses ini bertujuan untuk mencapai keadaan fana’ fillah..

Melempar jumrah bagi kaum sufi melambangkan ketaatan mutlak terhadap perintah Allah, meskipun hikmah lahiriahnya tidak sepenuhnya dipahami. Ini adalah penyerahan diri total kepada kehendak ilahi, dan pengakuan bahwa seorang hamba hanyalah pelaksana perintah Tuhannya.

Penyerahan diri inilah merupakan salah satu inti tasawuf, di mana seorang murid atau yang mencari ridha Allah mengesampingkan keinginannya dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah.

Dengan rahasia-rahasia tersebut, ritual melempar jumrah berubah dari sekadar tindakan eksternal menjadi perjalanan spiritual yang mendalam, mencerminkan esensi tasawuf dalam pencarian abadi menuju penyucian, peningkatan spiritual, dan fana’ di lautan keesaan Allah.

Editor: Ryan Saputra