Press ESC to close

Ngaji Tasawuf di Warkop

Oleh: Dr. Syahrir Nuhun, Lc., M.Th.I. (Khalifah Tarekat Khalwatiyah Yusuf)

Pagi kemarin, Jumat, 17 April 2026, saya diminta untuk mengisi kajian tasawuf di Warkop 148, Jalan Tinumbu. Jemaah meminta agar materinya berkelanjutan. Untuk pertemuan perdana setelah Ramadan, materinya tentang: Keutamaan, Makna, dan Pengaruh Lā ilāha illallāh dalam Kehidupan.

Kalimat Lā ilāha illallāh yang biasa juga disebut dengan kalimatuttauhid mempunyai beberapa keutamaan, di antaranya sebagai zikir paling utama sebagaimana disebutkan di dalam hadis:

Zikir yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh, dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah.”

Oleh karena itu, dalam berbagai tarekat, zikir Lā ilāha illallāh menjadi salah satu wirid pokok.
Syekh Yusuf al-Makassariy dalam berbagai risalahnya—seperti Sirrul Asrar, Zubdatul Asrar, dan Tajul Asrar—menjelaskan bahwa kalimat tauhid ini bukan sekadar di lisan. Ada martabat atau tingkatan pemahaman yang ditempuh oleh seorang salik.

Di antara makna Lā ilāha illallāh menurut Syekh Yusuf al-Makassariy adalah: Lā ma‘būda, wa lā mathlūba, wa lā marghūba, wa lā maqshūda, wa lā mahbūba, wa lā ma’syūqa, wa lā fā‘ila, wa lā maujūda illallāh (Tidak ada yang disembah, tidak ada yang dicari, tidak ada yang diinginkan, tidak ada yang dituju, tidak ada yang dicintai, tidak ada yang dirindukan, tidak ada pelaku, dan tidak ada yang ada kecuali Allah).

Berikut penjelasan beberapa makna Lā ilāha illallāh:

  1. Lā ma‘būda illallāh
    “Tiada yang disembah kecuali Allah.” Ini adalah makna syariat.
  2. Lā maqshūda illallāh
    “Tiada yang dituju kecuali Allah.” Tujuan dari semua amalan, bukan dunia ataupun akhirat. Tujuannya hanya Allah. Ini adalah keikhlasan hakiki dalam beramal.
  3. Lā masyhūda illallāh
    “Tiada yang disaksikan kecuali Allah.” Pada tahap ini, semua yang disaksikan adalah tajalli (refleksi atau pantulan) dari sifat keagungan ataupun keindahan Allah Swt.
  4. Lā maujūda illallāh
    “Tiada yang wujud (secara hakiki) kecuali Allah.” Pada tahap ini, alam dipandang sebagai mazhar atau bayangan. Yang wujud hakiki hanyalah Allah. Inilah yang disebut Syekh Yusuf sebagai Fana’ fil-Lāh baqa’ billāh. Ketika seorang salik sudah baqa’ billāh, maka yang bicara bukan lagi “aku”, tapi Allah yang menggerakkan. Seperti Hadis Qudsi: “Aku menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya…” (HR. Bukhari).

    Makna-makna ini bisa dibaca lewat tulisan, tetapi akan disadari dengan penuh kesadaran lewat bimbingan seorang mursyid. Di sinilah letak pentingnya talqin dan suhbah dengan mursyid kamil.

    Kalau kalimat ini benar-benar masuk ke hati, bukan cuma di lisan, maka akan mengubah total cara hidup. Di antara pengaruhnya adalah:
  • Merdeka dari penghambaan kepada makhluk, baik jabatan, harta, atasan, atau pujian manusia.
  • Hidup mempunyai arah dan tujuan yang tunggal. Semua aktivitas hidup tujuannya satu: rida Allah.
  • Tenang ketika ditimpa musibah dan tidak sombong ketika mendapatkan nikmat.

Itulah sakinah yang diturunkan oleh Allah Swt., ke dalam hati orang-orang beriman.

Editor: Andi Fakhrur Riza