Press ESC to close

Menjaga Ekoteologi dalam Islam

Oleh: Prof. Dr. H. Lukman Arake, Lc., MA. (Dewan Pakar ICATT)

Menjaga lingkungan dalam Islam bukan sekadar perilaku opsional, melainkan kebutuhan strategis untuk mencegah kerusakan di bumi yang tentu saja mengarah pada bencana lingkungan dan iklim. Mengubah prinsip-prinsip Islam menjadi realitas nyata memerlukan strategi yang melampaui sekadar nasihat hingga mencapai tata kelola dan penerapan praktis.

Berikut adalah perincian strategi pelestarian lingkungan perspektif Islam praktis untuk menghindari bencana:

​1. Menghidupkan Sistem Hima atau Cagar Alam

Sistem Hima adalah sistem ekologi Islam tertua untuk melindungi sumber daya. Konsepnya adalah dengan cara alokasi area tertentu seperti lahan, hutan, dan perairan yang di dalamnya dilarang berburu, menebang pohon, atau perluasan pembangunan agar alam dapat meregenerasi dirinya sendiri.

Konsep ini dapat diubah menjadi kebijakan kontemporer melalui pembentukan “area perlindungan hayati” di sekitar kota dan institusi besar seperti kampus untuk menjamin keanekaragaman hayati dan mencegah penggurunan yang menyebabkan banjir serta erosi tanah.

​2. Rasionalisasi Konsumsi sebagai Pencegahan terhadap Bencana

Islam mengaitkan antara pemborosan dengan kemunduran materiel dan moril. Prinsipnya adalah makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Pemborosan energi, air, dan bahan mentah adalah penyebab utama emisi karbon.

Penerapan praktis dengan cara manajemen sumber daya dengan mengadopsi strategi pengurangan limbah (Zero Waste) di institusi dan rumah tangga. Transisi ke sumber energi terbarukan sebagai kewajiban moral agama untuk mengurangi polusi, yang pada gilirannya mengurangi risiko perubahan iklim dan fenomena cuaca ekstrem.

​3. Menanam sebagai Ibadah Proaktif

Rasulullah Saw., mengaitkan menanam pohon dengan hari kiamat, yang menunjukkan keberlanjutan dalam memberi. Menanam pohon bukan sekadar mempercantik, melainkan infrastruktur alami untuk mencegah erosi, membersihkan udara, dan mendinginkan suhu.

Penerapan praktisnya adalah dengan mengubah inisiatif individu menjadi proyek institusional. Misalnya, komitmen setiap institusi pendidikan atau administratif untuk memiliki ruang hijau tertentu dan persentase tutupan vegetasi, yang berkontribusi membangun perisai alami terhadap badai dan gelombang panas.

​4. Melindungi Air dari Polusi

Air dalam Islam adalah aset bersama, dan mencemarinya adalah kejahatan lingkungan. Melindungi sumber air tanah dan mencegah pembuangan limbah industri yang tidak diolah. Bencana besar sering kali terkait dengan krisis air. Oleh karena itu, menjaga kebersihan badan air adalah garis pertahanan pertama melawan wabah penyakit dan kekeringan.

5. Mengaktifkan Peran Hisbah dan Pengawasan Lingkungan

Dalam sejarah Islam, Hisbah adalah badan pengawas untuk mengatur pasar dan lingkungan. Pengawasan masyarakat dan institusi untuk memastikan tidak ada kerugian yang ditimbulkan kepada orang lain.

Karenanya, perlu legislasi lingkungan dalam bentuk hukum yang ketat yang melarang pelanggaran terhadap lingkungan. Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial, institusi termasuk universitas, perusahaan, dan pabrik harus bertransformasi menjadi institusi hijau yang bertanggung jawab atas jejak karbon mereka, di mana merusak lingkungan dianggap sebagai pengkhianatan terhadap amanah publik.

Pertanyaan kemudian adalah bagaimana pendekatan ini mencegah bencana? Bencana yang tidak diinginkan seperti banjir bandang, kekeringan hebat, keruntuhan sistem ekologi sesungguhnya bukanlah takdir yang tak terelakkan, melainkan sering kali merupakan hasil akumulatif dari melampaui batas.

Berpegang pada pendekatan Islam mencegah bencana melalui fikih lingkungan yang bekerja untuk mencegah penyebabnya seperti pengurangan emisi, dan perlindungan tutupan vegetasi. Membatasi konsumsi berlebihan mengurangi tekanan pada sumber daya alam, memberikan kesempatan bumi untuk pulih.

Selain itu, mendistribusikan beban lingkungan secara adil mencegah runtuhnya masyarakat rentan di bawah tekanan krisis iklim. Selamat hari bumi, semoga semuanya tetap baik-baik saja.

Editor: Ryan Saputra