
Oleh: Ihsan Zainuddin, Lc., Dipl., M.Hum (Ketua I ICATT dan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash Lampoko)
Seseorang berlari kecil dari arah kanan. Dengan sedikit tergopoh, ia memanggil, “Ustadz!”
Saya menoleh. Wajahnya langsung saya kenali. Ternyata dia adalah santri saya, Zulfikar.
Zulfikar merupakan salah satu santri yang energik, ramah, dan selalu penuh semangat. Saya bahkan pernah menjulukinya sebagai santri mutahammis, yakni santri yang semangatnya selalu meluap-luap.
“Kapanki tiba, Nak?” tanyaku.
Kami masih bersalaman, tetapi dari sorot matanya tampak bahwa ia sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar dan bercerita.
Saya tahu Zulfikar memilih jalan yang berbeda. Karena berbagai pertimbangan, ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan menekuni jalan hidupnya sendiri.
Setelah saya menanyakan kesibukannya saat ini, ia menjawab dengan penuh antusias.
“Alhamdulillah, Ust, sekarang saya punya usaha.”
“Maksudnya membantu usaha orang tua?” tanya saya.
“Berkat doa Ustadz, Alhamdulillah saya sudah mandiri.”
Saya terdiam sejenak. Dada saya tiba-tiba dipenuhi rasa haru, senang, sekaligus bangga.
“Oh ya“
“Saya tidak tahu apakah Ustadz masih ingat. Dulu, waktu saya dan beberapa teman sering berkumpul bersama Ustadz, Ustadz pernah mengatakan bahwa setiap orang memiliki jalan suksesnya masing-masing. Tidak semua harus menjadi pegawai, tidak semua harus memilih jalan yang sama. Yang terpenting adalah menjadi pribadi yang bermanfaat, mandiri, dan tidak berhenti berusaha.”
Saya mencoba mengingat-ingat. Mungkin saya pernah mengatakannya dalam sebuah pertemuan yang sudah lama berlalu.
“Kalimat itu yang selalu saya pegang sampai hari ini, Ust,” katanya sambil tersenyum.
Mendengarnya bertutur. Saya hanya terus berdoa, semoga kelak usahanya terus lancar dan makin sukses.
“Tapi, usahakan dan sempatkan kuliah lagi ya“, pintaku
“Iya Ust. Insya Allah“
Saya jelaskan, kuliah bukan semata-mata soal ijazah. Tapi adalah proses yang penting agar kita lebih paham lagi akan makna hidup dan kehidupan ini.
“Kuliah itu proses membentuk pola pikir dan cara pandang” kataku.
Pada akhirnya kita kembali menyadari bahwa motivasi sering kali bekerja dengan cara yang tidak kita duga. Sebuah nasihat yang bagi kita terasa biasa saja, bisa menjadi titik balik bagi orang lain. Sebuah kalimat sederhana yang mungkin terlupakan oleh pengucapnya, justru dapat menetap lama dalam ingatan pendengarnya.
Sebagai guru, terkadang kita tidak pernah benar-benar tahu kata-kata mana yang akan tumbuh menjadi harapan di hati seorang santri. Namun, ketika melihat mereka bangkit, berjuang, dan menemukan jalannya sendiri, kita memahami bahwa setiap motivasi yang tulus tidak pernah sia-sia.
Pagi yang cerah,
Lembang Majene, 7 Juni 2026
