
Makassar (KOMINFO ICATT) — Ketua Yayasan ICATT Prof. H. Andi Aderus menyampaikan pesan mendalam kepada ratusan Calon Mahasiswa Baru (Camaba) Universitas Al-Azhar tahun ajaran 2026/2027 dalam kegiatan “Penguatan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan” yang dirangkaikan dengan Pelepasan Mahasiswa, di Aula Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (15/10).
Prof. Andi Aderus yang juga merupakan Wakil Rektor II UIN Alauddin Makassar mengingatkan bahwa menempuh pendidikan di luar negeri bukan sekadar mengejar keunggulan akademik, tetapi juga menuntut kesiapan beradaptasi dengan perbedaan budaya, tradisi keilmuan, dan kehidupan sosial tanpa kehilangan jati diri keagamaan dan kebangsaan.
“Mahasiswa perlu mempersiapkan diri menghadapi lingkungan yang lebih beragam. Kemampuan beradaptasi, memahami budaya setempat, dan menjalin hubungan baik dengan orang lain menjadi bekal penting agar dapat menjalani studi dengan lancar tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.
Menurutnya, keterbukaan terhadap perbedaan harus berjalan beriringan dengan penguatan identitas keagamaan dan kebangsaan. Pengalaman belajar di Mesir hendaknya menjadi kesempatan untuk memperluas cakrawala intelektual, memperdalam pemahaman keagamaan, dan membangun kedewasaan dalam menyikapi keragaman pemikiran.
Kegiatan yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) ini menjadi bagian dari persiapan calon mahasiswa sebelum melanjutkan pendidikan ke Mesir. Selain kesiapan akademik, penguatan moderasi beragama dan wawasan kebangsaan dipandang penting untuk membekali mahasiswa menghadapi dinamika kehidupan di lingkungan internasional.

Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan H. Ali Yafid, yang melepas para mahasiswa, mengingatkan bahwa mereka membawa tanggung jawab untuk menjaga nama baik agama, bangsa, dan daerah selama menempuh pendidikan di luar negeri.
“Ananda berangkat membawa tiga amanah: sebagai duta agama, duta bangsa, dan duta Sulawesi Selatan. Tampilkan Islam yang berilmu, ramah, dan berakhlak, serta jaga nama baik Indonesia di mana pun berada,” tegas Ali Yafid.
Ia menekankan bahwa mahasiswa Indonesia di Mesir diharapkan mampu merepresentasikan Islam yang moderat, menjunjung tinggi akhlak, serta membangun hubungan harmonis di tengah keberagaman masyarakat.
Sementara itu, Ketua Umum DPP ICATT H. Mallingkai Ilyas, mengingatkan pentingnya kedewasaan dalam menyikapi perbedaan mazhab dan tradisi intelektual Islam. Menurutnya, keberagaman pemikiran yang dijumpai selama menempuh pendidikan harus menjadi kekayaan khazanah keilmuan, bukan pemicu perselisihan.
“Perbedaan pendapat adalah kekayaan khazanah keilmuan. Yang harus dicegah adalah perpecahan dan permusuhan. Karena itu, belajarlah dari guru yang jelas sanad keilmuannya dan lakukan tabayyun sebelum menerima atau menyebarkan informasi,” pesannya.
Melalui pembekalan ini, 105 calon mahasiswa Al-Azhar diharapkan mampu menjalani pendidikan dengan kesiapan intelektual, kematangan sikap, dan komitmen kebangsaan yang kuat. Pengalaman belajar di Mesir diharapkan tidak hanya melahirkan generasi yang unggul dalam penguasaan ilmu agama, tetapi juga cendekiawan yang terbuka terhadap perbedaan, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, dan mampu berkontribusi bagi kehidupan beragama serta kebangsaan di Indonesia. (Ryan)
