
Oleh: Afriadi Ramadhan, Lc. (Anggota Bidang Informasi dan Komunikasi ICATT)
Kalau bulan Rabiul Awal tiba, ada semacam ritme yang berubah di ruang publik. Masjid-masjid mulai memasang spanduk perayaan peringatan Maulid, beberapa rumah mengundang untuk berkumpul dan membaca kitab al-Barzanji berjamaah. Begitu juga dunia maya, video singkat tentang Maulid mulai berseliweran di mana-mana. Membahas banyak aspek, mulai dari butiran hikmah, berita unik maulid dari penjuru nusantara, sampai pembahasan klasik tentang hukum merayakannya.
Saya bersyukur untuk situasi itu. Artinya, itu adalah berita baik kalau ada kerinduan kolektif terhadap sosok Nabi pembawa cahaya risalah. Tetapi, apa yang menjadi alasan dari timbulnya kerinduan itu? Jangan sampai, kita mengaku rindu kepada sosok, yang sebenarnya, belum kita kenali secara mendalam.
Di sinilah letak khilaf yang jarang diakui secara terbuka. Mengaku mencintai sebelum mengenali. Anda belum cukup mengenal Nabi kalau hanya mengetahui informasi umum seperti, beliau terlahir yatim di 12 Rabiul Awal, menikah dengan Sayidah Khadijah di umur 25, diangkat menjadi Rasul di umur 40, dan berdakwah selama kurang lebih 23 tahun.
Mengenal Nabi Muhammad saw tidak cukup hanya dengan mengetahui informasi-informasi tentangnya, tetapi harus juga mengerti apa hikmah dan pelajaran di setiap langkah hidup yang dijalaninya. Sayang sekali kalau momentum maulid setiap tahun itu hanya dilewati dengan mendengar ceramah, membaca barzanji, bersedekah makanan, lalu berlalu begitu saja.
Benar bahwa amalan tersebut bagian dari sunnah dan ada imbalan pahala, tapi momentum maulid akan jauh lebih bermakna kalau ada faedah yang tinggal dan tertanam dalam diri. Apalagi tercermin dalam perilaku setelah melewati bulan mulia ini. Saya yakin Baginda Nabi akan tersenyum bangga melihat umatnya yang tidak Cuma sebatas tahu, tetapi berusaha menghidupkan sunnah dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan dengan prinsip maqasid-based, daripada habis-habis energi untuk kembali memperdebatkan perdebatan yang sama, barangkali akan lebih produktif jika kita mengalihkan perhatian pada pertanyaan yang lebih substantif: sudah sejauh mana literasi sirah kita?
Sirah Bukan Sekadar Catatan Sejarah, Tapi Acuan Hidup dari Nabi
Menurut saya, dosa umum dalam mendengar sirah adalah hanya berfokus pada detail-detail sejarah yang sebenarnya bukan inti dari sirah itu sendiri. Terlalu terpaku dengan tanggal, pelaku, tempat, dan nama peristiwa, tetapi luput dari hikmah yang bermakna.
Maka tidak heran kalau pelajaran sirah hanya tertulis di dalam kepala, sulit untuk masuk dan meresap ke dalam jiwa. Itu mungkin bisa untuk membangunkan ingatan tentang Nabi, tetapi belum sampai untuk bisa menjalani hidup sesuai dengan tuntunan Nabi.
Itulah kenapa belajar sirah menjadi penting. Karena sirah menjelaskan dengan lengkap. Memahami catatan perkataan dan perbuatan Nabi tidak boleh terlepas dari konteks. Dalam banyak tulisan dan ceramah keagamaan, yang sering dikutip hanya teks, tapi tidak menjelaskan konteks. Akibatnya kadang kita keliru mengamalkan sunnah Nabi yang sebenarnya maksudnya bukan itu.
Contoh sederhana tentang Nabi yang berpoligami hingga meninggalkan banyak istri ketika wafat. Itu benar dan ada catatan sejarahnya. Tapi bagaimana kita memahaminya? Jangan sampai kita hanya mengetahui bahwa istri Nabi ada sembilan, tetapi pertanyaan “hikmahnya apa?” sama sekali tidak bisa kita jawab.
Atau contoh lain tentang kekalahan Nabi bersama kaum muslimin di perang Uhud. Itu sudah umum diketahui bahwa tentara muslim kalah karena lalai di penghujung waktu perang. Tapi wawasan kita seharusnya tidak berhenti di situ. Kita harus masuk ke pelajaran intinya bahwa di Perang Uhud, kekalahan kaum muslimin menjadi bukti kemenangan Islam yang konkret.
Dengan mendalami sirah, kita akan lebih mengenal Nabi Muhammad saw sebagai manusia sempurna (insan kamil) yang sekaligus menjadi teladan terbaik untuk umat manusia (QS. Al-Ahzab: 21). Teladan yang dicontohkan Nabi bukan sekedar nasihat moral yang abstrak dan ketinggalan zaman, melainkan undangan untuk mempelajari pola pikir dan pola tindak ideal seorang muslim dalam setiap posisi dan keadaan.
Dari Nabi, kita mendapatkan semua panduannya. Panduan kehidupan yang terbukti mampu menyulap masyarakat Arab Jahiliah menjadi peradaban maju yang menaungi dua pertiga dunia dalam waktu kurang dari satu abad.
Kalau boleh memakai bahasa yang lebih akrab dengan telinga kita hari ini, sirah itu semacam blueprint kehidupan paling lengkap dan ideal yang telah dijaga oleh sejarah agar sampai ke tangan kita. Blueprint itu sangat istimewa karena berfokus hanya kepada satu sosok sebagai manusia paling berpengaruh yang pernah hidup di muka bumi.
Panduan dan ajaran sirah tersebut tidak hanya dibuktikan di Kota Makkah, Lembah Badr, Gunung Uhud, atau di masyarakat Madinah. Nilai dari blueprint itu masih terbukti relevan dalam sejarah Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Usmaniyah, Fatimiyah, bahkan sampai era adanya dunia maya.
Oleh karena isinya yang lengkap dan komprehensif, sirah yang seperti blueprint itu tidak cukup kita telan dengan hanya mendengar satu dua ceramah saja. Diperlukan perencanaan dan keseriusan dalam mempelajarinya.
Maulid sebagai Garis Start Belajar Sirah
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Zad al-Ma’ad menulis bahwa sirah Nabi adalah bagian dari agama itu sendiri, karena dengan sirah kita memahami bagaimana wahyu turun dan ditransformasi dalam tindakan nyata. Artinya, mengenal sirah bukan poin tambahan yang menyangga pemahaman agama, melainkan salah satu inti dari ajaran agama itu sendiri.
Jika sebelas bulan yang lain kita habiskan untuk urusan pekerjaan, keluarga, berbagai distraksi harian sehingga alpa mengkaji perjalanan hidup Nabi, maka bulan maulid seharusnya menjadi titik aman untuk memulai kembali tanpa rasa canggung atau terlambat. Memulai dengan hal kecil tentu lebih baik daripada memenangkan alasan “nanti saja” sampai tahun-tahun berlalu tanpa progres apa pun.
Dan di sinilah alumni Timur Tengah memiliki peran, dengan bekal metodologi dan sanad keilmuan dari ulama di negeri para nabi, mereka punya kewajiban intelektual untuk mengarahkan euforia Maulid dari sekadar seremoni formalitas menjadi penguatan literasi dan pengamalan sehari-hari. Memastikan masyarakat mencintai Nabi karena tumbuh dari wawasan yang sahih, bukan karena fomo musiman saja.
Langkah Praktis Belajar Sirah yang Serius tapi Tak Membebani
Belajar sirah secara intelektual tetap bisa dijalani dengan asyik tanpa harus berkutat dengan kitab tebal Arab klasik. Ada beberapa pendekatan yang lebih organik dan relevan.
Pertama, pendekatan tematik-karakter. Daripada membaca secara kronologis sejak awal, coba telusuri dan pilih satu teman spesifik yang paling disukai. Misalnya fase masa kecil dan remaja Nabi, jejak kepemimpinan beliau, kehidupan rumah tangga, atau deretan ghazwah (perang) yang menjelaskan kasih sayang beliau bahkan kepada musuh. Pendekatan ini mungkin akan terasa lebih relevan dengan persoalan kehidupan yang hampir dialami oleh semua orang.
Kedua, tetapkan target realistis. Cukup 10-15 menit dalam sehari membaca satu kitab referensi, seperti Sirah Nabawiyah karya Syekh al-Mubarakfuri atau Fiqh Sirah karya Syekh Ramadhan al-Buthi. Atau bisa juga dengan rutin menonton video ceramah atau kajian dari ulama nusantara, akan lebih bagus kalau memilih yang memang punya hubungan nasab dengan Rasulullah.
Maulid yang Berkelanjutan
Pada akhirnya, indikator keberhasilan Maulid bukan terletak pada seberapa meriah panggung yang didirikan atau seberapa merdu kasidah yang dilantunkan. Indikator yang lebih ideal dan relevan adalah sejauh mana pemahaman kita tentang Rasulullah bertambah setelah bulan ini berlalu? Seberapa melekat gaya hidup Nabi dalam aktivitas keseharian kita?
Utang literasi sirah kita mungkin sudah menumpuk cukup lama. Tapi seperti halnya utang finansial, ia tidak akan lunas hanya dengan penyesalan. Itu bisa lunas dengan cicilan yang konsisten, dimulai dari langkah sekecil apa pun, dan dimulai sejak hari ini.
Editor: Ryan Saputra
