
Oleh: Dr. Syahrir Nuhun Lc., M.Th.I (Pembimbing Ibadah PT. Asia Iman Wisata dan Dewan Pakar ICATT)
Syekh Yusuf al-Makassari dalam risalahnya “Zubdatul Asrar” menukil perkataan dari Abu Yazid al- Busthami yang bergelar Sulthanul Arifin sebagai berikut: “Tahun pertama berhaji, saya tidak melihat Ka’bah dan pemilik Ka’bah. Tahun kedua berhaji, saya melihat Ka’bah tetapi belum melihat pemilik Ka’bah. Tahun ketiga berhaji, saya tidak melihat apapun kecuali Pemilik Ka’bah.”
Nukilan perkataan Abu Yazid tersebut, boleh jadi akan dipersoalkan sebagian orang. Betapa tidak, salah satu rukun haji dan umrah adalah tawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran yang diawali dengan mencium hajar aswad atau menyentuhnya atau minimal memberi isyarat ke arahnya dengan tangan. Lalu bagaimana mungkin ada orang yang berhaji tanpa melihat Ka’bah?
Melihat Ka’bah dengan mata kepala (bashar) tentu bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan, tetapi melihat Ka’bah dengan mata batin (bashirah), itulah yang seringkali diabaikan. Seseorang tidak melihat Ka’bah, bukan karena mata kepalanya buta, tetapi karena mata hatinya yang tertutup sehingga tidak pernah benar-benar melihatnya.
Ka’bah adalah Rumah Allah
Sebagian jemaah haji dan umrah melihat Ka’bah tidak ubahnya seperti melihat bangunan-bangunan lain yang ada di muka bumi ini. Tidak ada bedanya dengan melihat gedung perkantoran, hotel, rumah mewah dan bangunan lainnya.
Akhirnya, ketika berada di pelataran Masjidil Haram, matanya melihat Ka’bah hanya seperti melihat batu besar yang terbungkus kain hitam. Tidak merasakan kemuliaan, keagungan, dan kewibawaan. Hatinya sibuk dengan urusan dunia, seperti konten dan status yang akan diposting di media sosial. Badannya ada di depan Ka’bah, tetapi hati dan ruhnya jauh dari Ka’bah.
Ya Allah! Tambahkanlah rumah-Mu ini keagungan, kehormatan, kemuliaan, dan kewibawaan.
Di dalam al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:
.…وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ
“Dan milik Allah timur dan barat. Maka kemanapun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah….” [QS. Al-Baqarah: 115]
Para Arif-billah menjelaskan bahwa apabila hati seseorang suci, maka ke arah manapun dia menģhadap, dia akan melihat Allah Swt. Tentu saja, bukan melihat zat Allah, tetapi melihat tanda kekuasaan dan merasakan kehadiran-Nya pada segala sesuatu. Oleh karena itu, Abu Yazid berkata: “Aku tawaf 20 kali dalam mimpi melihat Pemilik Rumah lebih baik daripada 10 kali di badan hanya melihat batu.”
Mengapa Hati Tidak Melihat Ka’bah?
Paling tidak ada tiga hijab (penghalang) yang bisa menutupi mata hati sehingga tidak bisa melihat Ka’bah. Pertama, Hijab Lalai (Ghaflah). Datang ke Tanah Suci untuk umrah, tetapi hatinya masih di rumah bersama keluarga atau di kantor dengan pekerjaannya.
Kedua, Hijab Ingin Dipuji (Riya’). Melaksanakan umrah berkali-kali agar dipandang sebagai orang saleh atau menjadi bahan cerita ketika berceramah. Ketika itu Ka’bah hanya dijadikan sebagai sarana keuntungan dunia.
Ketiga, Hijab Dosa. Imam Al-Ghazali berkata: “Dosa itu membuat hati berkarat. Karat itu yang menghalangi cahaya.” Orang yang hatinya penuh dengki, ghibah, dan cinta dunia, ketika di depan Ka’bah pun ia tidak merasakan apa-apa. Layaknya orang haus di depan lautan.
Agar Hati Melihat Ka’bah
Beberapa hal yang sepatutnya dilakukan agar hati melihat Ka’bah dan Pemiliknya. Pertama, luruskan niat. Ketika berangkat umrah, niatkanlah bukan sekadar datang untuk melihat Ka’bah secara fisik, tetapi datang untuk memenuhi panggilan Allah Swt.
Allah Swt. berfirman:
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا
“Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang” [QS. Al-Hajj: 27].
Kedua, hidupkan hati. Saat tawaf mengelilingi Ka’bah, bayangkanlah bahwa tawaf kali ini boleh jadi akan menjadi putaran terakhir dalam hidup. Hadirkan dalam hatimu, “Ya Allah aku tawaf dalam keagungan dan keindahan sifat-sifat-Mu, bukan mengelilingi batu.”
Ketiga, rendahkan dirimu di hadapan-Nya. Berdoalah dengan penuh kerendahan diri kepada-Nya di tempat-tempat mulia, di antaranya di Multazam, tempat antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
Mintalah kepada-Nya bukan hanya urusan dunia. Mintalah kepada-Nya: “Ya Allah bersihkan hatiku seperti Engkau bersihkan Ka’bah ini dan hilangkanlah hijab yang menutupi hatiku sehingga saya bisa memandang-Mu.“
Pada akhirnya, salah satu tujuan umrah adalah agar Ka’bah yang ada di hati, bisa hidup kembali. Ka’bah di Mekah bisa dilihat mata, tetapi ‘Ka’bah hati’ hanya bisa dilihat dengan keyakinan yang benar.
Editor: Afriadi Ramadhan
