
Kairo (KOMINFO ICATT) — Di tengah hiruk-pikuk Kota Kairo yang menjadi salah satu pusat keilmuan Islam dunia, seorang putra Sulawesi Barat membawa cerita panjang tentang Islam Nusantara. Andi Muhammad Ridwan Tahir berhasil mempertahankan disertasi doktoralnya di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo dengan mengangkat peran Tarekat Khalwatiyah dalam membentuk tradisi spiritual dan peradaban Islam di kepulauan Nusantara.
Dalam sidang munakasah yang berlangsung di Aula Imam Prof. Dr. Husain Al-Dzahabi, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Sabtu (8/8), Ridwan mempertahankan penelitian berjudul:
الطريقة الخلوتية وأثرها في التربية الروحية العملية ونشر التصوف في أرخبيل نوسانتارا: دراسة تحليلية مقارنة
“Tarekat Khalwatiyah dan Kontribusinya terhadap Pembinaan Spiritual Praktis serta Penyebaran Tasawuf di Kepulauan Nusantara: Kajian Analitis-Komparatif”.
Penelitian tersebut menelusuri perjalanan dua cabang besar Tarekat Khalwatiyah yang berkembang di Nusantara, yakni Khalwatiyah Yusuf dan Khalwatiyah Samman. Melalui pendekatan analitis-komparatif, Ridwan menunjukkan bahwa tasawuf tidak hanya hadir sebagai praktik spiritual individual, tetapi juga menjadi salah satu kekuatan sosial yang ikut membentuk wajah Islam di Nusantara.
Menurut Ridwan, keberadaan tarekat memiliki peran besar dalam proses islamisasi Nusantara melalui pendidikan ruhani, pembinaan akhlak, serta penyebaran nilai-nilai Islam yang mengedepankan kedamaian dan keseimbangan. Jaringan ulama dan tarekat juga menjadi ruang terbentuknya solidaritas masyarakat serta ikut memberi pengaruh dalam dinamika sosial dan perjuangan melawan kolonialisme.
“Disertasi ini lahir dari keyakinan bahwa tasawuf di Nusantara bukan hanya warisan spiritual, tetapi juga bagian dari kekuatan peradaban yang membentuk karakter masyarakat, pendidikan, dakwah, dan persatuan umat,” ujar Ridwan usai sidang.
Sidang tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Jamaluddin Husain Afifi sebagai promotor utama dan Prof. Dr. Abdurrahman Fahmiy Riyadh sebagai ko-promotor. Adapun tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Jamil Ibrahim Sayyid Tu’ailib sebagai penguji internal dan Prof. Dr. Khalid Abdul ‘Aal Nasr sebagai penguji eksternal.
Sejumlah tokoh akademik Universitas Al-Azhar turut hadir dalam momen tersebut, di antaranya Dekan Fakultas Ushuluddin Prof. Dr. Mahmud Husain, Wakil Dekan Prof. Dr. Misbah, mantan Dekan Fakultas Ushuluddin Prof. Dr. Abdul Fattah Al-Awwari, Prof. Dr. Abdullah Muhyi Azab, serta sejumlah guru besar lainnya.
Turut hadir pula Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir Kuncoro Giri Waseso, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo Dr. Abdul Muta’ali, Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler Agus Hidayatullah, jajaran pejabat KBRI Kairo, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat Indonesia di Mesir.
Setelah melalui proses munakasah sekitar tiga jam, majelis penguji menetapkan Andi Muhammad Ridwan Tahir lulus dengan predikat Martabat al-Syaraf al-Ula (Summa Cum Laude).
Keberhasilan Ridwan menjadi bagian dari semakin kuatnya kehadiran akademisi Indonesia di pusat-pusat keilmuan Islam dunia. Melalui kajian tentang Khalwatiyah, ia tidak hanya menyelesaikan perjalanan akademiknya, tetapi juga menghadirkan kembali satu bagian penting dari sejarah Islam Nusantara yang selama ini tumbuh melalui jaringan ulama, pesantren, dan tradisi spiritual masyarakat.
Penelitian ini diharapkan memperluas perhatian dunia akademik internasional terhadap khazanah Islam Nusantara sekaligus memperkuat hubungan intelektual antara Indonesia dan Universitas Al-Azhar yang telah berlangsung lama. (Ryan)
