Press ESC to close

Tokoh Lintas Agama Teken Komitmen Bersama Tolak IRET di Car Free Day Boulevard Makassar

Makassar (KOMINFO ICATT) – Momen paling berkesan dalam Kampanye Publik Anti Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Boulevard, Makassar, Minggu (19/7), terjadi saat para pimpinan organisasi lintas agama bersama ratusan peserta membubuhkan tanda tangan pada Komitmen Bersama Menolak Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme.

Penandatanganan tersebut menjadi simbol persatuan lintas agama sekaligus penegasan bahwa menjaga kerukunan, memperkuat persaudaraan, dan merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Keuskupan Agung Makassar, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sulawesi Selatan, DPD WALUBI Sulawesi Selatan, Permabudhi Sulawesi Selatan, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Sulawesi Selatan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Selatan, Forum Kemanusiaan Lintas Agama (FKLA) Sulawesi Selatan, dan Pemuda Lintas Agama (PELITA) FKUB Sulawesi Selatan.

Di hadapan masyarakat yang memadati kawasan Car Free Day, para tokoh agama secara bergantian menandatangani papan komitmen sebagai bentuk dukungan nyata terhadap upaya pencegahan berkembangnya paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Setelah para tokoh agama, masyarakat yang hadir juga turut membubuhkan tanda tangan sebagai wujud partisipasi dalam gerakan bersama menjaga Indonesia yang damai, rukun, dan harmonis.

Ketua Umum DPP ICATT Mallingkai Ilyas, mengatakan bahwa penandatanganan komitmen bersama bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan deklarasi moral yang mengikat seluruh pihak untuk terus menjaga persatuan bangsa.

“Tanda tangan yang kita bubuhkan hari ini bukan sekadar tinta di atas media deklarasi. Ini adalah ikrar moral dan komitmen kebangsaan untuk berdiri bersama melawan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Komitmen ini harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui pendidikan, dialog, kolaborasi, dan penguatan moderasi beragama di tengah masyarakat,” ujarnya.

Menurut Mallingkai, tantangan terhadap persatuan bangsa semakin kompleks seiring berkembangnya penyebaran ujaran kebencian, hoaks, dan provokasi di ruang digital. Karena itu, kolaborasi seluruh elemen bangsa menjadi kunci dalam membangun ketahanan nasional.

“Ketika tokoh agama, pemerintah, organisasi masyarakat, akademisi, pemuda, dan masyarakat bersatu, kita sedang membangun benteng sosial yang kuat untuk mencegah berkembangnya paham-paham yang mengancam persatuan bangsa. Indonesia akan tetap kokoh apabila kerukunan terus dirawat oleh seluruh anak bangsa,” tegasnya.

Ketua MUI Sulawesi Selatan Nadjamuddin Abduh Shafa, menegaskan bahwa seluruh agama memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga perdamaian.

“Komitmen ini menjadi bukti bahwa seluruh umat beragama memiliki tekad yang sama untuk menjaga kedamaian, memperkuat persaudaraan, dan menolak segala bentuk kekerasan atas nama apa pun,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua FKUB Sulawesi Selatan Muammar Bakry, menyebut penandatanganan komitmen bersama sebagai pesan kuat bahwa kerukunan merupakan modal utama dalam pembangunan bangsa.

“Kerukunan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Hari ini masyarakat melihat sendiri bahwa para pemimpin agama berdiri bersama, menandatangani komitmen yang sama, dan mengajak seluruh masyarakat menjadi bagian dari gerakan menjaga Indonesia tetap damai dan bersatu,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat terlihat ketika ratusan pengunjung Car Free Day ikut menandatangani papan komitmen. Mereka berasal dari berbagai latar belakang usia, profesi, dan agama. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat merawat harmoni tidak hanya menjadi tanggung jawab tokoh agama, tetapi juga merupakan gerakan bersama seluruh warga negara.

Penandatanganan Komitmen Bersama Menolak IRET menjadi puncak dari rangkaian kampanye publik yang diawali dengan orasi kebangsaan, edukasi mengenai bahaya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, pembagian materi kampanye, dialog dengan masyarakat, serta penyampaian yel-yel “Dari Makassar untuk Indonesia, Bersama Kita Melawan IRET; Sehat, Damai dan Harmonis.

Melalui penandatanganan komitmen bersama tersebut, sebelas organisasi lintas agama berharap semangat persatuan tidak berhenti pada kegiatan sehari, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang mengakar di tengah masyarakat. Dari Makassar, mereka mengirimkan pesan kepada Indonesia bahwa keberagaman adalah kekuatan, kerukunan adalah fondasi, dan kolaborasi lintas agama merupakan jalan terbaik untuk menjaga Indonesia tetap damai, harmonis, serta bebas dari intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. (Ryan)