Press ESC to close

Pesantren dan Isu Krisis Ekonomi

Oleh: Ihsan Zainuddin, Lc., Dipl., M.Hum (Ketua I ICATT dan Pengasuh Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash Lampoko Sulawesi Barat)

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah rapat daring, saya menyinggung satu persoalan yang menurut saya tidak boleh dianggap biasa. Pertanyaan yang saya ajukan sederhana, tetapi memiliki implikasi yang sangat besar: Bagaimana pesantren dapat bertahan di tengah isu dan ancaman krisis ekonomi?

Pertanyaan tersebut muncul bukan tanpa alasan. Berbagai lembaga ekonomi dunia dan nasional berkali-kali mengingatkan tentang potensi perlambatan ekonomi global yang dapat berdampak pada banyak negara, termasuk Indonesia.

Kita tentu berharap dan berdoa agar bangsa ini terhindar dari krisis yang berkepanjangan. Namun, sebagai bagian dari masyarakat yang bertanggung jawab, kita juga perlu menyiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

Sejarah menunjukkan bahwa ketika krisis ekonomi melanda, hampir semua sektor akan merasakan dampaknya. Daya beli masyarakat menurun, lapangan pekerjaan menyusut, biaya hidup meningkat, dan berbagai aktivitas ekonomi mengalami tekanan. Dalam situasi seperti itu, lembaga pendidikan, termasuk pesantren, tentu tidak sepenuhnya kebal dari pengaruh krisis.

Namun demikian, saya meyakini bahwa pesantren memiliki modal sosial dan kultural yang sangat kuat untuk bertahan. Sejak awal kelahirannya, pesantren dibangun di atas semangat kemandirian. Banyak pesantren tumbuh dari kesederhanaan, mengelola sumber daya yang terbatas, dan membangun kehidupan kolektif yang mengutamakan kebersamaan dibanding kemewahan. Tradisi ini menjadi kekuatan yang sangat berharga ketika masyarakat menghadapi masa-masa sulit.

Ketahanan pesantren tidak hanya terletak pada aspek ekonomi semata, tetapi juga pada ketahanan mental dan nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan kepada para santri. Pesantren mengajarkan kesabaran ketika menghadapi kesulitan, hidup hemat ketika sumber daya terbatas, semangat tolong-menolong ketika ada yang membutuhkan, serta kebersamaan dalam menghadapi berbagai tantangan. Nilai-nilai tersebut sering kali menjadi faktor penentu yang membuat suatu komunitas mampu bertahan dalam situasi krisis.

Lebih dari itu, pesantren juga mengajarkan etos kerja yang kuat. Para santri dibiasakan untuk hidup disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab. Dalam banyak kasus, pesantren bahkan mengembangkan berbagai unit usaha produktif yang tidak hanya menopang kebutuhan lembaga, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Jika dikelola dengan baik, potensi ini dapat menjadikan pesantren sebagai salah satu pilar ketahanan ekonomi masyarakat di tengah ketidakpastian.

Di saat sebagian orang mungkin larut dalam kecemasan akibat berbagai prediksi ekonomi, pesantren menawarkan perspektif yang berbeda. Kewaspadaan tetap diperlukan, perencanaan tetap harus dilakukan, dan berbagai analisis ekonomi tetap penting untuk diperhatikan. Namun, di atas semua itu, pesantren mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam membaca masa depan.

Karena itu, selain ikhtiar yang maksimal, ada keyakinan yang selalu ditanamkan bahwa Allah Swt. adalah pemilik segala skenario kehidupan. Perhitungan para ahli ekonomi dapat membantu manusia memahami berbagai kemungkinan, tetapi tidak ada yang mampu melampaui kehendak Allah Swt. Banyak peristiwa dalam sejarah menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap mustahil oleh manusia dapat terjadi atas izin-Nya, dan sesuatu yang diperkirakan pasti terjadi dapat berubah sesuai kehendak-Nya.

Oleh sebab itu, menghadapi isu dan ancaman krisis ekonomi, pesantren perlu memperkuat kemandirian, meningkatkan kreativitas, mengembangkan usaha-usaha produktif, serta menjaga nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi identitasnya. Dengan modal tersebut, pesantren bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat dan bangsa.

Pada akhirnya, krisis bukan hanya ujian bagi kekuatan ekonomi, melainkan juga ujian bagi karakter, solidaritas, dan keimanan. Dan dalam aspek-aspek itulah pesantren memiliki warisan yang sangat berharga untuk terus dirawat dan dikembangkan.

Editor: Ryan Saputra