
Oleh: Prof. Dr. H. Lukman Arake, Lc., MA. (Dewan Pakar ICATT; Rektor IAIN Bone)
Sejatinya Idul Adha bukan sekedar perayaan keagamaan dan penyembelihan hewan kurban. Tetapi ia adalah simbol perjalanan spiritual yang mendalam sekaligus merupakan rahasia ilahi yang terwujud dalam makna pengorbanan, penebusan, dan kedekatan dengan kebenaran.
Para ulama tidak memandang proses penyembelihan hewan kurban sebagai tindakan fisik semata, melainkan sebagai simbol pembunuhan nafsu yang sering mendorong kepada keburukan, serta penyembelihan keinginan dan hawa nafsu duniawi.
Ketika seseorang menyembelih hewan kurbannya maka pada hakekatnya sedang menyembelih keegoisan, kesombongan, dan keangkuhannya agar hatinya suci dan jiwanya terangkat. Kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail adalah inti rahasia Idul Adha.
Kisah yang menggambarkan penyerahan diri total kepada perintah Allah. Penebusan Ismail dengan seekor domba besar melambangkan bahwa Allah tidak menginginkan kesulitan bagi hamba-Nya, melainkan Dia menginginkan mereka menyerahkan diri dan berbakti dalam cinta-Nya.
Hal itu mengisyaratkan bahwa Allah menebus dan menjaga jiwa hamba-hamba-Nya ketika ia melepaskan diri dari segala sesuatu selain Dia. Jadi berkurban adalah kesempatan untuk mencapai kedekatan sejati dengan Allah.
Kedekatan tersebut bukan sekedar formalitas, melainkan kedekatan spiritual yang terwujud ketika manusia melepaskan diri dari hijab diri dan belenggu dunia. Pengorbanan yang dilambangkan oleh Idul Adha adalah pengorbanan segala sesuatu yang menjauhkan manusia dari Tuhannya, agar hatinya murni hanya untuk Allah semata.
Karenanya, Idul Adha harus dimaknai sebagai hari transformasi batin, dan kesempatan untuk pembersihan dan penyucian yang pada akhirnya menjadi jembatan menuju cinta dan kehadirat-Nya. Selamat Hari Qurban 2026, semoga Allah merahmati kita semua.
Editor: Ryan Saputra
