Press ESC to close

Anggota Dewan Pakar ICATT Terima Gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Islam Syekh Daud Al-Fatani Thailand

Makassar (KOMINFO ICATT) – Sabtu, 11 April 2026 menjadi momen bersejarah bagi salah satu anggota Dewan Pakar ICATT Dr. KH. Anwar Sadat Abdul Malik, Lc., MA. Bertempat di Masjid Besar Darussalam Belawa, Wajo, Sulawesi Selatan ia resmi dikukuhkan sebagai penerima gelar Profesor Kehormatan (Professor Fakhriyah) dari Universitas Islam Syekh Daud Al-Fatani, Thailand.

Dalam keterangannya, Kyai Anwar menyampaikan bahwa dirinya menyambut penghargaan tersebut dengan rasa syukur dan sikap sederhana.

“Pertama tentu saya bersyukur atas amanah besar ini, tapi saya jujur harus tetap bersikap biasa-biasa saja,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa selama ini dirinya telah mengabdi di dunia pendidikan selama 12 tahun sebagai pengajar di Universitas Islam As’adiyah Sengkang.

Gelar kehormatan ini diberikan atas rekomendasi Prof. Emeritus Dato Dr. Sayyid Muhammad Aqiel bin Ali Al-Mahdaliy Al-Hussaini, Lc., MA., yang merupakan Ketua Dewan Guru Besar Universitas Islam Syekh Daud Al-Fatani Thailand sekaligus Rais Majlis Istisyari Darud Da’wah Wal Irsyad.

Dalam perjalanan hidupnya, Kyai Anwar sempat terjun ke dunia politik beberapa periode. Namun, hal tersebut tak menghalanginya untuk terus berdakwah kepada masyarakat. Secara keseluruhan, ia telah mengabdi selama sekitar 35 tahun dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman.

“Satu kuncinya keikhlasan. Saat dapat guru besar juga ini pun karena keikhlasan, ikhlas untuk mengabdi kepada masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti bahwa kontribusi nyata seperti mendirikan pondok pesantren, mendidik masyarakat, dan berdakwah seharusnya menjadi pertimbangan penting dalam pemberian gelar kehormatan.

“Saya melihat Anregurutta menekankan tentang pentingnya pengabdian kepada masyarakat. Makanya salah satu syarat mendapatkan guru besar itu harus punya pondok, karena kita membengkeli orang, mendidik orang, dan berceramah. Ini patut diberikan penghargaan daripada guru besar yang beli jurnal atau makalah,” tegasnya dengan meniru gaya bahasa Prof. Aqiel.

Di akhir pernyataannya, Kyai Anwar berharap penghargaan ini dapat menjadi motivasi bagi banyak pihak untuk terus menulis dan belajar.

“Mudah-mudahan ini menjadi motivasi untuk banyak orang termasuk saya pribadi untuk menulis, karena berhubung saya banyak di ceramah. Jadi, tidak ada kata berhenti untuk belajar. Sekalipun tidak bergelar harus tetap belajar,” tutupnya. (Ryan)